Representasi Budaya Jawa dalam Film Pendek Lemantun (The Third Cupboard) Karya Wregas Bhanuteja (Kajian Semiotika Roland Barthes)
| dc.contributor.author | Rani Setyowati Utami | |
| dc.date.accessioned | 2026-09-28T02:19:28Z | |
| dc.date.issued | 2018-07-19 | |
| dc.description | :: Finalisasi file repositori 28 September 2026_Kurnadi | |
| dc.description.abstract | Film diartikan sebagai suatu genre seni bercerita berbasis audiovisual, atau cerita yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak (Ilham Zoebazary, 2010 : 104). Dalam perkembangannya, film menjadi sebuah media yang cukup banyak diminati sebagai media sosialisasi dan publikasi budaya yang ampuh dan persuasif. Melalui film, sebenarnya kita banyak belajar tentang budaya. Baik budaya masyarakat di mana kita hidup di dalamnya, atau bahkan budaya yang sama sekali asing untuk kita. Film digunakan sebagai cerminan untuk merefleksi realitas budaya atau untuk melihat bagaimana budaya hidup di dalam suatu masyarakat. Film pendek Lemantun (dalam versi Bahasa Inggris berjudul The Third Cupboard) karya Raphael Wregas Bhanuteja sebagai objek kajian peneliti, menggambarkan bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang kental sekali dengan adat istiadat budaya Jawa yang diturunkan atau diwariskan. Film ini menceritakan tentang sebuah kejadian yang biasa dialami oleh sebuah keluarga, yakni pembagian warisan. Namun, berbeda dengan warisan pada umumnya yang berbentuk harta berharga, warisan pada film ini adalah sebuah lemari yang diwariskan seorang ibu kepada anak-anaknya. Meskipun demikian, lemari yang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi, dalam film ini digambarkan memiliki nilai filosofi yang cukup dalam. Film pendek ini juga menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Jawa yang sederhana namun disiplin. Lemari atau almari, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki arti peti besar tempat menyimpan sesuatu. Artinya, lemari merupakan suatu benda dimana kita dapat menyimpan atau meletakkan benda-benda yang penting bagi kita. Lemari merupakan benda yang mudah didapatkan dan cenderung terjangkau harganya. Hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa dalam film pendek Lemantun justru lemari yang tidak berharga tersebut menjadi sebuah benda yang diwariskan. Dalam penelitian ini, diungkap bahwa terjadi perubahan makna yang dilakukan oleh manusia sebagai pemberi makna. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes untuk mengkaji bagaimana konotasi berkembang menjadi budaya yang terjadi di dalam masyarakat. Tidak hanya itu, penelitian ini juga menggunakan teori representasi Stuart Hall dengan pendekatan konstruksionis (Constructionist Approach), yang cocok dipasangkan dengan teori semiotika Roland Barthes karena memiliki cara pandang yang sama. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Muhammad Zamroni, S.Sn., M.Sn. DPA: Romdhi Fatkhur Rozi, S.Sos., M.Med.Kom. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/15265 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Budaya Jawa | |
| dc.subject | Film Pendek Lemantun | |
| dc.title | Representasi Budaya Jawa dalam Film Pendek Lemantun (The Third Cupboard) Karya Wregas Bhanuteja (Kajian Semiotika Roland Barthes) | |
| dc.type | Other |
