Representasi Budaya Jawa dalam Film Pendek Lemantun (The Third Cupboard) Karya Wregas Bhanuteja (Kajian Semiotika Roland Barthes)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Film diartikan sebagai suatu genre seni bercerita berbasis audiovisual, atau
cerita yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak (Ilham
Zoebazary, 2010 : 104). Dalam perkembangannya, film menjadi sebuah media
yang cukup banyak diminati sebagai media sosialisasi dan publikasi budaya yang
ampuh dan persuasif. Melalui film, sebenarnya kita banyak belajar tentang
budaya. Baik budaya masyarakat di mana kita hidup di dalamnya, atau bahkan
budaya yang sama sekali asing untuk kita. Film digunakan sebagai cerminan
untuk merefleksi realitas budaya atau untuk melihat bagaimana budaya hidup di
dalam suatu masyarakat.
Film pendek Lemantun (dalam versi Bahasa Inggris berjudul The Third
Cupboard) karya Raphael Wregas Bhanuteja sebagai objek kajian peneliti,
menggambarkan bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang kental sekali dengan adat
istiadat budaya Jawa yang diturunkan atau diwariskan. Film ini menceritakan
tentang sebuah kejadian yang biasa dialami oleh sebuah keluarga, yakni
pembagian warisan. Namun, berbeda dengan warisan pada umumnya yang
berbentuk harta berharga, warisan pada film ini adalah sebuah lemari yang
diwariskan seorang ibu kepada anak-anaknya. Meskipun demikian, lemari yang
tidak memiliki nilai ekonomis tinggi, dalam film ini digambarkan memiliki nilai
filosofi yang cukup dalam. Film pendek ini juga menggambarkan bagaimana
kehidupan masyarakat Jawa yang sederhana namun disiplin.
Lemari atau almari, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki arti
peti besar tempat menyimpan sesuatu. Artinya, lemari merupakan suatu benda
dimana kita dapat menyimpan atau meletakkan benda-benda yang penting bagi kita. Lemari merupakan benda yang mudah didapatkan dan cenderung terjangkau
harganya. Hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa dalam film
pendek Lemantun justru lemari yang tidak berharga tersebut menjadi sebuah
benda yang diwariskan.
Dalam penelitian ini, diungkap bahwa terjadi perubahan makna yang
dilakukan oleh manusia sebagai pemberi makna. Oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan teori semiotika Roland Barthes untuk mengkaji bagaimana konotasi
berkembang menjadi budaya yang terjadi di dalam masyarakat. Tidak hanya itu,
penelitian ini juga menggunakan teori representasi Stuart Hall dengan pendekatan
konstruksionis (Constructionist Approach), yang cocok dipasangkan dengan teori
semiotika Roland Barthes karena memiliki cara pandang yang sama.
Description
:: Finalisasi file repositori 28 September 2026_Kurnadi
