Performativitas gender pada tokoh Atlas Shepherd dalam Film Atlas (2024): Analisis Struktur Naratif Todorov
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Sudut pandang media menempatkan laki-laki dalam posisi dominan
sementara perempuan dalam posisi rentan dan tersubordinat. Beberapa dekade
terakhir isu gender kian jadi perhatian global. Hal ini ditandai dengan adanya
pergeseran pola representasi gender pada industri film Hollywood. Film-film yang
menampilkan protagonis perempuan sebagai pemeran utama meningkat
singnifikan. Puncaknya di tahun 2024 ketika persentase film terlaris dengan
pemeran karakter utama perempuan menyamai jumlah film yang tokoh utamanya
laki-laki. Film-film tersebut berupaya menghadirkan perspektif lain melalui
perwujudan karakter perempuan dengan sifat yang setara karakter laki-laki. Film
Atlas termasuk salah satu di antaranya yang menghadirkan tokoh utama perempuan
dengan karakteristik dominan dan mendobrak stereotip gender. Atlas (2024) adalah
film fiksi ilmiah oleh Brad Peyton yang rilis perdana di Netflix pada Mei 2024.
Film Atlas menceritakan perjalanan Atlas Shepherd dalam menyelesaikan
permasalahan kompleks yang terjadi antara manusia dengan AI. Dalam
perjalanannya, terdapat berbagai situasi yang menyebabkan terjadinya perubahan
pada dinamika karakter tokoh Atlas. Perubahan tersebut juga berdampak pada
penggambaran karakter perempuan heroik yang dibawakan melalui tokoh Atlas
Shepherd. Teori performativitas gender Judith Butler dan struktur tiga babak
Todorov digunakan untuk membedah bagaimana struktur naratif menunjukkan
performativitas gender tokoh Atlas Shepherd dalam film Atlas. Tujuannya untuk
menganalisis konstruksi performativitas gender melalui struktur naratif dalam film
Atlas yang diperlihatkan tokoh Atlas Shepherd. Teori struktur naratif Todorov
membagi film Atlas menjadi 3 tahapan, yakni fase equilibrium, fase disequilibrium,
fase new equilibrium. Di setiap fase, struktur naratif Todorov juga membagi 3
indikator transformasi perbabak yang merujuk pada konstruksi perubahan pada tokoh utama meliputi, sikap, keyakinan, dan pengetahuan. Selain itu terdapat juga
kajian peformativitas gender Judith Butler yang digunakan sebagai tolak ukur
karakterisasi tokoh Atlas Shepherd, meliputi konsep gender yang cair dan dapat
beradaptasi dengan cara bertahap. Pembagian data didasari atas penampilan
serangkaian ‘gestur tertentu’ yang berkaitan dengan performa gender pada
dinamika karakter tokoh Atlas Shepherd di setiap babaknya. Metode penelitian
yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data penelitian didapatkan melewati
serangkaian teknik pengumpulan dan analisis data seperti observasi, dokumentasi,
studi literatur, reduksi, dan sajian data. Data hasil observasi film Atlas, dari total 31
scene direduksi, menyisakan 8 data scene yang dinilai berkaitan dengan
performativitas gender pada tokoh Atlas Shepherd. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa performativitas gender pada tokoh Atlas dibentuk secara bertahap secara
repetitif di setiap babaknya. Pada fase equilibrium tokoh Atlas mengonstruksi
identitas maskulinitas hegemonik yang secara performatif tampak pada perilaku
dominatif, tertutup, menolak interaksi sosial, dan idealis. Di fase disequilibrium
performa hegemonik Atlas terguncang, membuat perubahan pada karakter Atlas
dan mempengaruhi citra gender yang dikonstruksi seperti, Atlas mulai membuka
diri, mengalah, bergantung pada AI, dan berusaha mempercayai AI. Di fase new
equilibrium, perubahan pada dinamika karakter mengonstruksi performa gender
Atlas menjadi lebih cair, relasional dan terbuka. Fluiditas gender Atlas ditunjukkan
pada transformasi akhir ketika Atlas tidak lagi mengonstruksi citra hegemonik dan
menampilkan gaya tubuh dan bahasa yang lain. Hal ini berpengaruh pada
pemaknaan film yang berkaitan dengan kampanye kesetaraan gender idustri film
Hollywood. Penelitian ini memberikan gambaran terhadap konsep gender yang
tidak bersifat tetap, tetapi juga dikonstruksi, dinegosiasi, dan ditampilkan dalam
bentuk perubahan pada dinamika karakter tokoh. Melalui pendekatan tersebut
diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi lebih terkait
performativitas gender tokoh Smith (AI) yang berhasil mempengaruhi Atlas dan
menyebabkan performa gendernya bergeser. Karena entitas Smith membuktikan
bahwa AI memiliki bentuk fluiditas gender yang lebih cair dari manusia.
Description
Reupload file repository 27 Maret 2026_Maya
