Determinan Kematian Akibat Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Jember Tahun 2022- 2023
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular
yang berpotensi fatal, terutama jika pasien tidak mendapatkan penanganan tepat
pada fase kritis. Berdasarkan laporan WHO (2019), DBD termasuk dalam 10
ancaman kesehatan global dengan angka kematian yang dapat mencapai 20%. Pada
tahun 2023, Kabupaten Jember menempati peringkat kedua kasus kematian akibat
DBD di Provinsi Jawa Timur, dengan jumlah 9 kematian. Meskipun berbagai faktor
telah diketahui berhubungan dengan kematian akibat DBD, namun ditemukan
perbedaan hasil. Sampai pada penelitian ini dilakukan belum terdapat studi
terdahulu yang meneliti terkait determinan kematian akibat DBD di Kabupaten
Jember. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor
individu, sistem kesehatan, dan sosial yang berhubungan dengan kematian akibat
DBD di Kabupaten Jember tahun 2022–2023.
Penelitian ini menggunakan desain case-control. Penelitian dilakukan di
puskesmas yang memiliki kasus kematian akibat DBD tahun 2022-2023 meliputi
Puskesmas Cakru, Bangsalsari, Sukorejo, Panti, Pakusari, Kalisat, Sumbersari,
Kaliwates, Semboro, Silo II, Ambulu, dan Balung. Populasi dalam penelitian ini
yaitu populasi kasus (kasus kematian akibat DBD di Kabupaten Jember tahun
2022–2023) dan populasi kontrol (kasus DBD yang tidak mengalami kematian di
Kabupaten Jember pada tahun 2022–2023) dengan total 345 kasus. Sampel meliputi
15 kasus dan 30 kontrol, dipilih dengan teknik total sampling untuk kasus dan
simple random sampling untuk kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara serta
dokumentasi sekunder dari puskesmas. Variabel yang diteliti meliputi faktor
individu (usia, pendidikan, jenis kelamin, riwayat DBD, kejadian Dengue Shock
Syndrome (DSS), penyakit penyerta), faktor sistem kesehatan (akses layanan
kesehatan dan keterlambatan ke fasilitas kesehatan), dan faktor sosial (pendapatan,
wilayah tempat tinggal, pengetahuan keluarga). Analisis dilakukan secara univariat
dan bivariat dengan uji Chi-square dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian akibat DBD di Kabupaten
Jember tahun 2022–2023 jika dilihat dari faktor individu lebih banyak terjadi pada
anak-anak dan lansia (60%), berpendidikan rendah (86,7%), dengan jenis kelamin
perempuan (66,7%), memiliki riwayat DBD (53,3%), mengalami kejadian DSS
(60%), dan memiliki penyakit penyerta (73,3%). Dari faktor sistem kesehatan,
sebagian besar memiliki akses layanan yang sulit (73,3%) dan mengalami
keterlambatan ke fasilitas kesehatan (60%). Dari faktor sosial, mayoritas berasal
dari keluarga berpendapatan rendah (80%), tinggal di wilayah pedesaan (66,7%),
dan memiliki pengetahuan keluarga kurang (60%). Hasil analisis bivariat
menunjukkan hubungan signifikan antara pendidikan, riwayat DBD, kejadian DSS,
dan penyakit penyerta terhadap kematian akibat DBD. Pada faktor sistem
kesehatan, terdapat hubungan signifikan antara akses layanan kesehatan dan
keterlambatan ke fasilitas kesehatan terhadap kematian akibat DBD. Sedangkan
dari faktor sosial, terdapat hubungan antara pendapatan keluarga, wilayah tempat
tinggal, dan pengetahuan keluarga terhadap kematian akibat DBD. Adapun usia dan
jenis kelamin tidak berhubungan secara signifikan dengan kematian akibat DBD.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa variabel yang
berhubungan signifikan dengan kematian akibat DBD di Kabupaten Jember tahun
2022–2023 meliputi pendidikan, riwayat DBD, kejadian DSS, penyakit penyerta,
akses layanan kesehatan, keterlambatan ke fasilitas kesehatan, pendapatan
keluarga, wilayah tempat tinggal, dan pengetahuan keluarga. Saran penelitian ini
ditujukan bagi penderita dan keluarga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap
gejala DBD, memahami pencegahan, dan segera mencari pertolongan medis.
Instansi kesehatan diharapkan memperbaiki pencatatan data pasien serta
menyediakan posko pelayanan di wilayah yang jauh dari puskesmas. Civitas
akademik dapat memanfaatkan hasil penelitian sebagai referensi dan penyuluhan
kepada masyarakat. Peneliti selanjutnya disarankan menambahkan variabel lain
yang relevan serta menggunakan analisis multivariat untuk memperoleh hasil yang
lebih mendalam.
Description
Entry oleh Arif 2026 April 02
