Penurunan Ketebalan Kartilago Sendi Temporomandibula pada Tikus Wistar dengan Diabetes Melitus dan Periodontitis
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan
kadar gula darah di atas normal (hiperglikemia). Prevalensi DM di dunia
tergolong tinggi sehingga menjadi masalah kesehatan yang serius. DM memiliki
berbagai komplikasi, salah satunya periodontitis. Prevalensi periodontitis pada
penderita DM jauh lebih tinggi dibandingkan pada orang sehat. Periodontitis
merupakan penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan kerusakan pada jaringan
periodontal, meliputi gingiva, ligamen periodontal, dan tulang alveolar. Salah satu
faktor yang memicu kondisi inflamasi pada periodontitis adalah akumulasi
Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis) pada plak subgingiva. DM dan
periodontitis dapat menginduksi respon inflamasi berlebihan sehingga
menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, termasuk sendi temporomandibula
atau temporomandibular joint (TMJ).
TMJ merupakan sendi yang berperan dalam fungsi mastikasi. Kondilus
merupakan salah satu komponen penyusun TMJ. Pada bagian kaput superfisial
kondilus terdapat kartilago (tulang rawan) yang berperan dalam memfasilitasi
pergerakan sendi. DM dan periodontitis menyebabkan respon inflamasi
berlebihan pada TMJ sehingga dapat memicu aktivasi nuclear factor-kappaB
(NF-κB). Aktivasi NF-κB dapat meningkatkan jumlah matrix metalloproteinases
(MMPs) yang berperan dalam degradasi matriks kartilago. Kerusakan komponen
TMJ dapat mempengaruhi fungsi TMJ, asupan nutrisi harian, serta kualitas hidup
seseorang. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti penurunan ketebalan kartilago
TMJ pada kondisi DM dan periodontitis.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan
rancangan penelitian post test only control group design. Penelitian ini
menggunakan 16 ekor tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan yang dibagi
kedalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol (K), kelompok DM (P1), kelompok periodontitis (P2), dan kelompok DM dengan periodontitis (P3). Kondisi DM
pada tikus diperoleh dengan menginjeksi obat diabetogenik streptozotocin (45
mg/kgBB) secara intraperitoneal. Kondisi periodontitis didapatkan dengan
menginjeksikan suspensi P. gingivalis dengan konsentrasi 0.5 McFarland (1.5 x
108 CFU/mL) pada sulkus gigi molar pertama rahang bawah tikus setiap tiga hari
selama dua minggu. Kemudian dilakukan euthanasia pada seluruh tikus dan
jaringan TMJ tikus diambil untuk diproses menjadi preparat histologis dengan
pewarnaan Hematoxylin and eosin (H&E). Preparat diamati menggunakan
mikroskop perbesaran 400x pada tiga lapang pandang. Pengukuran ketebalan
kartilago TMJ dilakukan menggunakan software OptilabR ImageRaster.
Data hasil penelitian ditabulasi dan didapatkan rata-rata ketebalan
kartilago kelompok kontrol (K) 101,28 µm, kelompok DM (P1) 49,39 µm,
kelompok periodontitis (P2) 69,29 µm, dan kelompok DM dengan periodontitis
(P3) 33,98 µm. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan
bermakna pada kelompok penelitian sehingga DM dan periodontitis memberikan
pengaruh pada ketebalan kartilago TMJ. Sedangkan hasil uji Mann-Whitney
menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok penelitian. Hal ini
terjadi karena DM dan periodontitis dapat memicu respon inflamasi di jaringan
TMJ yang menyebabkan destruksi matriks kartilago TMJ. Kondisi DM
menyebabkan penurunan ketebalan kartilago yang lebih besar dibandingan
periodontitis karena hiperglikemia dapat menghambat produksi komponen
penyusun matriks oleh kondrosit. DM yang disertai periodontitis dapat
meningkatkan respon inflamasi sehingga menyebabkan kerusakan jaringan
kartilago yang paling besar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,
disimpulkan bahwa DM dan periodontitis dapat menyebabkan penurunan
ketebalan kartilago TMJ pada tikus Wistar.
Description
Reupload file repository 10 februari 2026_agus/feren
