Perbandingan Efek Infusa Kulit Bawang Merah dan Vitamin C terhadap Ketebalan Septum Interalveolar Akibat Paparan Asap Rokok
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Data terbaru perokok di dunia diperkirakan mencapai 19% orang dewasa.
Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 sebanyak
delapan juta orang meninggal setiap tahunnya akibat produk tembakau seperti
rokok. Hal ini disebabkan karena asap rokok dapat menyebabkan peningkatan ROS
dan penurunan antioksidan. Ketidakseimbangan ini disebut dengan stres oksidatif
yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. Alveolus yang merupakan tempat
utama pertukaran gas dalam tubuh akan terdampak dengan adanya stres oksidatif
yang dapat dideteksi melalui perubahan histopatologi yaitu dengan adanya
ketebalan septum interalveolar. Stres oksidatif dapat dicegah dengan adanya
penambahan antioksidan eksogen seperti yang terkandung dalam kulit bawang
merah dan vitamin C. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui
perbandingan efek infusa kulit bawang merah dan vitamin C terhadap ketebalan
septum interalveolar akibat paparan asap rokok.
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental post test only control
group design dengan metode simple random sampling pada 24 hewan coba tikus
Wistar jantan (Rattus norvegicus) berusia 8-10 minggu yang terbagi menjadi empat
kelompok yaitu kelompok tanpa paparan asap rokok, kelompok paparan asap
rokok, kelompok infusa kulit bawang merah (IKBM), dan kelompok vitamin C
selama 30 hari. Kelompok IKBM diberikan melalui sonde lambung sebanyak 1.000
mg/kgBB/hari dan kelompok vitamin C diberikan dosis 25 mg/kgBB/hari. Variabel
bebas berupa pemberian IKBM dan vitamin C sedangkan variabel terikat adalah
ketebalan septum interalveolar tikus Wistar. Pengamatan preparat alveolus
menggunakan mikroskop Miconos IRIS-4 dengan tambahan Optilab Sigma
perbesaran 400x. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Hewan Coba, Laboratorium
Farmakologi, dan Laboratorium Histologi Universitas Jember.
Hasil pengukuran ketebalan septum interalveolar diperoleh data yang
terdistribusi normal dengan uji Shapiro Wilk dan homogen berdasarkan uji Levene
pada seluruh kelompok. Hasil uji one-way anova diperoleh nilai p<0,05 yang
selanjutnya dilakukan post hoc test diperoleh nilai p sebesar 0,963 antara kelompok
IKBM dan vitamin C. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bawah tidak
terdapat perbedaan secara signifikan antara kedua kelompok tersebut terhadap
ketebalan septum interalveolar akibat paparan asap rokok. Selain itu, pada
penelitian ini juga terdapat data jumlah sel pneumosit tipe 2 yang terdistribusi
normal dan homogen pada semua kelompok dengan hasil uji one-way anova
diperoleh nilai p<0,05 dan selanjutnya dilakukan post hoc test diperoleh nilai p
sebesar 0,967 antara kelompok IKBM dan vitamin C yang menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Description
Reuploud file repositori 11 maret 2026_Firli
