Semiotika pada Novel Cinta Sang Penjaga Telaga Karya Azzura Dayana dan Pemanfaatannya Sebagai Alternatif Materi Pembelajaeran Sastra di SMA Kelas XII
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap tandatanda dalam karya sastra Indonesia, khususnya novel. Novel Cinta Sang Penjaga
Telaga karya Azzura Dayana dipilih sebagai objek kajian karena merepresentasikan
kehidupan masyarakat pedesaan dengan latar alam berupa telaga, sawah, dan
lingkungan agraris melalui tanda-tanda yang dituliskan oleh pengarang. Dengan
demikian, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ikon, indeks, dan simbol yang
terdapat dalam novel Cinta Sang Penjaga Telaga karya Azzura Dayana serta
menunjukkan hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra
Indonesia di SMA. Secara teoretis, penelitian ini berlandaskan pada teori semiotika
Charles Sanders Peirce yang memandang tanda melalui hubungan triadik antara
representamen, objek, dan interpretan, serta diklasifikasikan ke dalam ikon, indeks,
dan simbol. Melalui pendekatan ini, penelitian difokuskan pada analisis tanda-tanda
ikon, indeks, dan simbol dalam latar, tokoh, peristiwa, dan unsur naratif lainnya
untuk mengungkap makna novel secara komprehensif. Semiotika Peirce dinilai
relevan karena mampu menjelaskan proses pemaknaan tanda yang berkaitan
dengan alam, realitas sosial, dan konflik kemanusiaan yang dominan dalam novel
tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat yang diambil
dari novel Cinta Sang Penjaga Telaga karya Azzura Dayana yang diterbitkan oleh
Semesta (Kelompok Pro-U Media) pada tahun 2009. Sumber data utama penelitian
adalah novel tersebut, sedangkan sumber data pendukung berupa dokumen
Kurikulum Merdeka Bahasa Indonesia Fase F kelas XII pada elemen membaca dan
menulis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan cara
membaca novel secara intensif, mencatat kutipan yang mengandung tanda, serta
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
ix
mengklasifikasikan data ke dalam kategori ikon, indeks, dan simbol. Analisis data
dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, ikon yang
ditemukan terdiri atas ikon citra/gambar dan ikon metafora. Ikon citra tampak
melalui deskripsi fisik seperti gubuk sederhana yang secara langsung
merepresentasikan realitas kehidupan pedesaan dan kondisi sosial ekonomi tokoh.
Penyajian kondisi tempat yang berlumpur, panas, serta dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian memperlihatkan kesesuaian dengan realitas empiris lingkungan
persawahan yang dapat dikenali secara inderawi. Ikon metafora diwujudkan
melalui penggambaran sawah dan lingkungan agraris yang secara konseptual
menyerupai kerja keras, perjuangan hidup, dan kesederhanaan masyarakat desa.
Ikon-ikon tersebut memungkinkan pembaca memahami realitas cerita melalui
kemiripan visual maupun konseptual dengan kehidupan nyata.
Kedua, indeks yang dominan dalam novel ini adalah indeks kausal dan
indeks temporal. Indeks kausal ditunjukkan melalui fenomena alam seperti tanah
basah, udara sejuk, dan jalanan becek yang menandai peristiwa hujan sebelumnya.
Indeks temporal tampak melalui tanda-tanda alam seperti fajar, senja, dan malam
yang berfungsi menunjukkan urutan waktu, ritme kehidupan, serta rutinitas
masyarakat desa. Kehadiran indeks memperkuat keterkaitan antara peristiwa,
waktu, dan lingkungan sosial tokoh.
Ketiga, simbol dalam novel terbagi menjadi simbol budaya dan simbol
sastra. Simbol budaya direpresentasikan melalui benda-benda seperti cincin kawat
dan cokelat yang melambangkan kasih sayang, kenangan, dan hubungan emosional
antartokoh berdasarkan konvensi sosial dan budaya. Simbol sastra diwujudkan
melalui telaga yang melampaui makna fisiknya serta merepresentasikan identitas,
refleksi batin, kenangan, keteguhan, dan hubungan keluarga. Simbol-simbol
tersebut membangun makna emosional dan tematik yang mendalam dalam novel.
Keempat, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan semiotika Peirce
efektif digunakan untuk mengungkap makna mendalam dalam teks novel, tidak
hanya pada aspek cerita, tetapi juga pada nilai sosial, budaya, dan emosional yang
terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, novel Cinta Sang Penjaga Telaga relevan
dimanfaatkan sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA kelas XII.
Pemanfaatan hasil penelitian ini selaras dengan Kurikulum Merdeka Fase F,
khususnya pada elemen membaca dan menulis. Materi pembelajaran dapat
diimplementasikan melalui tujuan pembelajaran, yaitu mengidentifikasi tanda ikon,
indeks, dan simbol yang terdapat pada teks novel yang telah dibaca serta menulis
pesan yang terkandung dalam kutipan teks novel berdasarkan hasil analisis ikon,
indeks, dan simbol. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dilatih membaca teks
sastra secara kritis, menafsirkan makna tanda secara kontekstual, serta
mengembangkan kemampuan menulis analitis berbasis teks sastra.
Berdasarkan hasil penelitian semiotika Charles Sanders Peirce terhadap
novel Cinta Sang Penjaga Telaga karya Azzura Dayana, disarankan agar hasil
penelitian ini dimanfaatkan oleh guru Bahasa Indonesia sebagai referensi
pengembangan materi pembelajaran sastra berbasis analisis ikon, indeks, dan
simbol sesuai Kurikulum Merdeka Fase F, khususnya pada elemen membaca dan
menulis. Peserta didik diharapkan mampu meningkatkan kemampuan apresiasi
sastra, berpikir kritis, dan menulis analitis melalui pemaknaan tanda dalam teks
novel. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya
untuk mengkaji karya sastra lain dengan pendekatan semiotika maupun pendekatan
interdisipliner guna memperkaya kajian sastra dan inovasi pembelajaran di SMA.
Description
Validasi file repositori 21 Juli 2026_Firli
