Hubungan Pemberian Stimulasi Tumbuh Kembang oleh Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS KEPERAWATAN
Abstract
Hubungan Pemberian Stimulasi Tumbuh Kembang oleh Keluarga dengan
Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Kabupaten Jember
Fadira Nurifa Fawaida; 212310101099; 2025: halaman xiv+88; Program Studi
Sarjana Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember
Stunting masih menjadi masalah gizi kronis di Indonesia dan berkontribusi
besar terhadap terganggunya tumbuh kembang anak, terutama pada usia dini. Di
Kabupaten Jember, prevalensi stunting masih tergolong tinggi yaitu sebesar 29,7%.
Salah satu faktor yang berperan dalam kejadian stunting adalah ketidakadekuatan
stimulasi tumbuh kembang yang diberikan oleh keluarga. Stimulasi yang sesuai
usia anak diyakini mampu mendukung perkembangan otak, kemampuan motorik,
sosial, dan emosional anak secara optimal, sekaligus berkontribusi pada pemenuhan
gizi secara tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
antara pemberian stimulasi tumbuh kembang oleh keluarga dengan kejadian
stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Jember. Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain case control.
Sampel terdiri dari 174 balita yang terbagi ke dalam dua kelompok: kelompok
case (87 balita stunting) dan kelompok control (87 balita tidak stunting).
Pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling di tiga wilayah
kerja Puskesmas yang menjadi lokus prioritas stunting, yaitu Rambipuji,
Sumberjambe, dan Ledokombo. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik
keluarga dan anak serta kuesioner pemberian stimulasi tumbuh kembang
berdasarkan Buku KIA, yang disesuaikan dengan usia anak. Pengukuran
antropometri dilakukan untuk memperoleh data tinggi dan berat badan anak, yang
kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak WHO Anthro. Analisis statistik
menggunakan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara pemberian stimulasi
dengan kejadian stunting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak dalam kelompok
case menerima stimulasi tidak adekuat (59,77%), sedangkan sebagian besar anak
dalam kelompok control menerima stimulasi yang adekuat (62,07%). Rata-rata skor pemberian stimulasi pada kelompok case secara konsisten lebih rendah
dibandingkan kelompok control di semua kelompok usia balita. Dalam hal status
gizi, seluruh balita pada kelompok kasus dikategorikan stunting berdasarkan
indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) dan sebagian besar balita tersebut juga
mengalami berat badan kurang. Sementara itu, seluruh balita pada kelompok
control memiliki status gizi normal di semua indikator (TB/U, BB/U, BB/TB, dan
IMT/U).
Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara
pemberian stimulasi tumbuh kembang oleh keluarga dengan kejadian stunting pada
anak usia 24–59 bulan (p-value = 0,006). Balita yang menerima stimulasi adekuat
memiliki kemungkinan 2,43 kali lebih besar untuk memiliki status gizi normal
dibandingkan dengan balita yang menerima stimulasi tidak adekuat (OR = 2,431;
95% CI = 1,322–4,471). Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga,
khususnya ibu, dalam memberikan stimulasi yang tepat sesuai tahap perkembangan
anak. Stimulasi yang terarah tidak hanya mendukung aspek perkembangan anak,
tetapi juga berdampak terhadap status gizi secara tidak langsung. Oleh karena itu,
program pencegahan stunting perlu disertai dengan edukasi dan pendampingan
kepada keluarga terkait pentingnya stimulasi tumbuh kembang
Description
Reuploud Repository hasyim Juni 2026
Validasi file repositori 4 Juni 2026_Magang SP (Anugrah)_Firli
