Interkasi Simbolik Pengguna Napza oleh Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Kota Malang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Penggunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) di kalangan
mahasiswa merupakan isu penting dalam konteks kesehatan dan perilaku.
Kasubag Umum BNN Kota Malang, Benny Trianto, dalam wawancaranya pada
11 September 2024 menegaskan bahwa penyalahgunaan Narkoba di Malang tidak
hanya menyasar pelajar, tetapi juga telah merambah ke kalangan pelajar. Hal ini
sangat memprihatinkan bagi masa depan bangsa Indonesia. Pengguna Napza di
kalangan mahasiswa swasta di Kota Malang menggunakan simbol-simbol tertentu
dalam interaksi dengan pengguna lainnya. Dalam penelitian ini terfokuskan
terhadap alasan mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Kota Malang
menggunakan Napza, simbol-simbol yang digunakan mahasiswa, dan bagaimana
simbol tersebut dikomunikasikan. Metode penelitian kualitatif deskriptif dengan
teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi kemudian dianalisis
secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan alasan mahasiswa di Kota
Malang yang menggunakan Napza dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu
faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup tekanan emosional, stres,
rasa jenuh, dan rasa ingin tahu. Di sisi lain, faktor eksternal meliputi pengaruh
lingkungan pertemanan, baik di rumah, di kampus, maupun dalam pergaulan
bebas di Kota Malang.
Simbol-simbol yang digunakan dalam interaksi pengguna Napza di Kota
Malang mencerminkan makna tertentu yang terbentuk melalui proses sosial.
Simbol-simbol seperti istilah, objek fisik, dan estetika ruang hidup pengguna
memiliki peran penting dalam komunikasi dan pembentukan identitas. Istilahistilah seperti SS, Micin untuk sabu, sedangkan Triheksifenidi disimbolkan
dengan kucing, hitup, putih dan beras. Sedangkan trihexyphenidyl dikenal pil
kuning, atau kunyit. Simbol tersebut hanya dipahami oleh lingkungan sosial
pengguna Napza. Simbol fisik, seperti poster larangan, koleksi botol minuman
keras, dan pencahayaan kamar yang remang-remang, tidak hanya menjadi bagian
dari lingkungan fisik tetapi juga mencerminkan identitas, gaya hidup, serta
ekspresi diri pengguna. Objek-objek ini menjadi sarana untuk menyampaikan
pesan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, mengenai citra diri yang ingin
ditampilkan.
Komunikasi yang digunakan mahasiswa di Kota Malang tidak terlepas
dari media sosial salah satu aplikasi Whatsaap menjadi jalur komunikasi
mahasiswa. Selain itu komunikasi yang dibangun oleh pengguna Napza di Kota
Malang. Pola-pola tertentu yang digunakan dalam menyamarkan Napza, seperti
penggunaan plastik klip, bungkus rokok, bungkus permen atau jasa ekspedisi,
merupakan bentuk aksi kolektif yang terorganisir. Pola-pola ini tidak muncul dari
inisiatif individu semata, melainkan merupakan hasil dari pengalaman bersama
dan penyesuaian di dalam komunitas pengguna.
Description
Reupload Repository Maya 25 Maret 2026
