Pengembangan Media Pembelajaran Articulate Storyline 3 Berbasis Perkebunan Lokal Kakao pada Bab 5 IPAS Kelas IV di Kabupaten Banyuwangi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Program merdeka belajar dan kurikulum merdeka merupakan jawaban dan
inovasi dari berbagai macam keluhan dari banyak pihak mengenai sistem
pendidikan di Indonesia. Kurikulum Merdeka diterapkan di satuan pendidikan
sebagai alternatif tambahan dalam rencana perbaikan pembelajaran dan
peningkatan mutu pendidikan. Penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS menjadi
IPAS merupakan salah satu pengembangan kurikulum merdeka dengan upaya dapat
menumbuhkan kepedulian peserta didik pada lingkungannya baik menurut sudut
pandang alam maupun sosial. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi
civitas akademika termasuk guru, sebagai penggerak pendidikan nasional.
Perkembangan teknologi dan informasi di abad-21 mewajibkan guru untuk
dapat menyesuaikan diri dengan mahir dalam bidang ilmu teknologi (IT), sehingga
dapat menerapkan dalam proses perencanaan maupun proses pembelajaran.
Penguasaan dalam bidang teknologi diperlukan guru untuk dapat menciptakan
media pembelajaran yang akan memudahkan guru saat penyampaian materi
pembelajaran. Kustandi dan Sutjipto (dalam Mustaqim, 2016) menyatakan peran
media dalam suatu sistem pembelajaran dimanfaatkam sebagai alat penyampaian
informasi secara cermat, jelas, dan menarik, alat penyalur pesan, alat
pemberdayaan, serta fasilitator bagi guru. Mahmud (2020) menyampaikan definisi
articulate storyline 3, yaitu perangkat lunak yang dapat menciptakan media
pembelajaran interaktif dari beragam jenis media berupa teks, grafik, gambar, suara,
animasi, video, dll serta pengerjaannya sesuai dengan kehendak kreator. Hasil dari
produk yang dikembangkan dapat dijalankan melalui laptop, komputer, maupun
smartphone (Sari & Harjono, 2021).Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu (1) Bagaimanakah proses
pengembangan media pembelajaran articulate storyline 3 berbasis perkebunan
kakao pada bab 5 IPAS kelas IV SD di Kabupaten Banyuwangi? dan (2)
Bagaimanakah hasil kevalidan, keefektifan, dan kepraktisan dari pengembangan
media pembelajaran articulate storyline 3 berbasis perkebunan kakao pada bab 5
IPAS kelas IV SD di Kabupaten Banyuwangi?
Model penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Borg and Gall meliputi
10 tahapan. Dari 10 tahapan yang ada hanya digunakan sampai tahap ke-8 saja,
karena pada tahap ke-8 sudah dapat menyimpulkan keefektifan dan kelayakan
produk yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan di SD N 5 Tegalharjo pada
semester genap Tahun Ajaran 2024/2025. Subjek penelitian pada penelitian ini yaitu
peserta didik kelas IV di SD N 5 tegalharjo.
Pengembangan media pembelajaran articulate storyline 3 berbasis
perkebunan lokal kakao pada bab 5 IPAS kelas IV di Kabupaten Banyuwangi
dilakukan validasi oleh tiga validator ahli yaitu ahli media, ahli bahasa, dan ahli
materi. Hasil kevalidan media pembelajaran memperoleh presentase 87% dengan
kategori sangat layak. Hasil dari keefektifan media yang dikembangkan ditinjau
dari hasil tes hasil belajar peserta didik dengan presentase sebanyak 88,88%
termasuk dalam kategori sangat efektif. Hasil kepraktisan media pembelajaran
diperoleh dari hasil angket respon peserta didik yang diberikan setelah peserta didik
mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media yang dikembangkan dengan
skor menunjukkan 91,81% yang termasuk dalam kategori sangat praktis.
Description
Reupload file repository 13 februari 2026_Arif/Halima
