Konstruksi Pengetahuan Mitigasi Perubahan Iklim dengan Prinsip Program Kampung Iklim (Studi Kasus : RW 09, Kelurahan Bendogerit)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Perubahan iklim di Kota Blitar menimbulkan kekeringan, peningkatan
sampah, dan penyakit berbasis lingkungan, sehingga Pemkot Blitar menerapkan
Proklim sebagai strategi mitigasi. Wilayah RW 09, Kelurahan Bendogerit dipilih
sebagai lokasi penelitian karena masyarakatnya konsisten sejak 2012 menjalankan
aksi mitigasi perubahan iklim samai memperoleh apresiasi Proklim Lestari di tahun
2024 kemarin. Penelitian ini bertujuan menggambarkan konstruksi pengetahuan
mitigasi perubahan iklim dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas
Luckmann.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan
studi kasus. Sementara, data penelitian ini dikumpulkan melalui tahap observasi,
wawancara, dan dokumentasi kepada beberapa informan. Contohnya, pengurus
RW 09, kelompok kerja lingkungan, masyarakat yang aktif dalam kegiatan
mitigasi, serta pihak stakeholder. Sebagaimana, informan tersebut dipilih dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik keabsahan data yang
digunakan peneliti dalam menguji kebenaran data yaitu triangulasi sumber, metode,
dan teori, serta terdapat analisis data melalui tahap pengorganisasian, reduksi, dan
penyajian data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan mitigasi
terbentuk melalui tiga tahap dialektis. Salah satunya yaitu tahap eksternalisasi, yang
diwujudkan dalam aksi nyata mitigasi perubahan iklim. contoh konkretnya yaitu
penghijauan, pengelolaan sampah, pembuatan biopori, pemanfaatan urine kelinci,
konservasi energi, pengolahan limbah makanan menjadi pakan ternak, serta
pembentukan kelembagaan sosial seperti Bank Sampah, KWT, Pokja Proklim, dan
kader Jabastik. Sementara, tahap kedua ialah obyektivasi terlihat ketika aksi dan
kelembagaan tersebut diterima sebagai norma kolektif, dilegitimasi oleh prinsip
Proklim, serta diakui melalui penghargaan nasional, serta tahap akhir yaitu
internalisasi. Tahap ini berlangsung ketika nilai dan prinsip Proklim dijadikan
pedoman hidup masyarakat, diwariskan dalam keluarga, kegiatan komunitas,
maupun pendidikan nonformal, hingga membentuk identitas ekologis RW 09.
Proses pembentukan pemahaman makna atau konstruksi sosial ini,
menghasilkan beberapa temuan yaitu terdapat kelebihan maupun kekurangan.
Kelebihan terletak pada kemampuan masyarakat RW 09 dalam menjelaskan
keterpaduan kearifan lokal, kepemimpinan, dan dukungan pemerintah. Sedangkan,
kekurangannya terdapat pada keterbatasan partisipasi sebagian warga serta sarana
prasarana yang belum optimal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa analisis
teori Berger dan Luckman menegaskan bahwa mitigasi di RW 09 bukan hanya
inovasi teknis, melainkan konstruksi sosial yang lahir dari interaksi, tradisi, dan
nilai bersama, sehingga menciptakan realitas ekologis kolektif yang berkelanjutan.
Description
Reuploud file repositori 12 Mei 2026_Firli
finalisasi 22 juni 2026 Rudi H
