Unsur Religi Dalam Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli: Kajian Antropologi Sastra

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh posisi novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli sebagai karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia modern yang tidak hanya kaya akan nilai estetis, tetapi juga merepresentasikan kompleksitas kehidupan masyarakat Minangkabau pada awal abad ke-20, saat nilai-nilai tradisional berhadapan dengan pengaruh modernitas dan kolonialisme. Unsur religi dalam novel ini terintegrasi dengan unsur-unsur struktural seperti tema, penokohan, latar, dan konflik, membentuk dimensi kultural yang mendalam dalam narasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterkaitan antarunsur struktural dalam novel Sitti Nurbaya yang meliputi tema, penokohan, latar, dan konflik, serta mendeskripsikan unsur religi dalam novel tersebut dengan pendekatan antropologi sastra, yang mencakup emosi keagamaan, sistem keyakinan, praktik keagamaan, dan umat beragama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Objek material penelitian ini adalah novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli cetakan ke 47 pada tahun 2010, sedangkan objek formalnya adalah keterkaitan antarunsur struktural dan aspek antropologi sastra, khususnya unsur religi. Satuan analisis berupa kalimat, paragraf, atau wacana yang berkaitan dengan aspek struktural dan kultural dalam novel. Hasil analisis struktural menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara tema, penokohan, latar, dan konflik dalam membangun keutuhan cerita. Tema mayor novel ini adalah benturan antara adat dan modernitas, yang terwujud dalam pengalaman Sitti Nurbaya yang terjebak antara kewajiban berbakti kepada orang tua dan keinginan menentukan jalan hidupnya sendiri. Tema ini didukung oleh tema-tema minor yang melekat pada tokoh tambahan, seperti perjuangan melawan ketidakadilan (Samsulbahri), kehancuran moral akibat obsesi harta (Datuk Meringgih), prioritas pada martabat dan nama baik jabatan di atas perasaan pribadi (Sutan Mahmud), serta kasih sayang seorang ayah yang berujung pada pengorbanan tragis (Baginda Sulaiman). Penokohan dirancang kompleks untuk mewakili berbagai posisi dalam konflik nilai, Sitti Nurbaya merepresentasikan generasi muda terdidik yang masih terikat nilai tradisional, Samsulbahri mewakili idealisme pemuda modern, Sutan Mahmud menggambarkan tokoh yang menjunjung integritas moral dan keadilan, Datuk Meringgih melambangkan penyalahgunaan nilai tradisional, dan Baginda Sulaiman menggambarkan tragedi orang tua baik yang terperangkap sistem ekonomi eksploitatif. Latar tempat (Padang, Batavia, Gunung Padang), latar waktu (awal abad ke-20). Dan latar sosial (stratifikasi berdasarkan kekayaan dan pendidikan) berperan aktif memperkuat tema dan konflik.

Description

Reupload file repositori 13 Mei 2026_Maya

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By