Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penerimaan Imunisasi Rotavirus (di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Diare menjadi penyebab kematian ketiga pada anak usia 1-59 bulan di dunia.
Di Indonesia, prevalensi diare pada balita (0-59 bulan) mencapai 7,4% dengan
infeksi rotavirus sebagai penyebab utama 41-58% kasus diare berat yang
memerlukan rawat inap rumah sakit. Untuk mencegah infeksi ini, vaksinasi rotavirus
telah diintegrasikan dalam program imunisasi nasional melalui Keputusan Menteri
Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/1139/2022. Namun, cakupan imunisasi
rotavirus dosis ketiga di Puskesmas Arjasa jauh di bawah target nasional 100%, yaitu
hanya 13,7% hingga November 2024. Rendahnya cakupan ini menunjukkan adanya
masalah penerimaan imunisasi yang kompleks, meskipun vaksin rotavirus sudah
menjadi program nasional. Rendahnya penerimaan imunisasi rotavirus dapat
dianalisis melalui teori Health Belief Model yang mencakup persepsi kerentanan,
persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri, dan isyarat
untuk bertindak. Studi pendahuluan di Puskesmas Arjasa menunjukkan bahwa masih
adanya penolakan masyarakat, kunjungan imunisasi yang tidak sesuai jadwal, dan
dropping vaksin. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor
yang berhubungan dengan penerimaan imunisasi rotavirus di wilayah kerja
Puskesmas Arjasa Kabupaten Jember menggunakan pendekatan Health Belief
Model.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik observasional dengan
desain cross-sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Arjasa pada bulan
Februari hingga Maret tahun 2025. Populasi penelitian ini adalah ibu atau wali bayi
yang merupakan pengambil keputusan terkait imunisasi rotavirus yang mana
memiliki anak berusia 7 bulan (30 Juni 2024) hingga 20 bulan (16 Mei 2023) di
wilayah kerja Puskesmas Arjasa sebanyak 598. Perhitungan sampel minimal
menggunakan rumus isaac dan michael ditemukan sebanyak 100 dan pengambilan
vi
sampel menggunakan proportional random sampling. Sumber data pada penelitian
ini yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara kepada ibu atau wali bayi
menggunakan lembar kuesioner yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas
sehingga valid dan reliabel serta observasi dari buku KIA. Data dianalisis secara
analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan persentase, analisis
bivariat menggunakan uji Chi-square, serta analisis multivariat menggunakan
Regresi Poisson dengan robust error variance untuk estimasi nilai Prevalence Ratio
(PR).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu/wali berusia 20 – 35
tahun (81%), berjenis kelamin perempuan (97%), dan pendidikan tamat
SMA/Sederajat (42%). Distribusi frekuensi komponen Health Belief Model yaitu
persepsi kerentanan dan efikasi diri proporsinya sama (50%), persepsi keparahan dan
persepsi manfaat lebih besar kategori tinggi (51%), persepsi hambatan lebih besar
kategori rendah (51%), serta isyarat untuk bertindak lebih besar kategori tinggi
(57%). Distribusi yang tidak menerima imunisasi rotavirus 3 yaitu sebesar 66%.
Analisis bivariat menunjukkan bahwa persepsi kerentanan (p-value <0,001; PR
2,000; 95% CI 1,439-2,779), persepsi keparahan (p-value <0,001; PR 2,394; 95% CI
1,688-3,394), persepsi manfaat (p-value <0,001; PR 2,230; 95% CI 1,590-3,129),
persepsi hambatan (p-value <0,001; PR 2,394; 95% CI 1,688-3,394), efikasi diri (p
value <0,001; PR 2,300; 95% CI 1,622-3,261), dan isyarat untuk bertindak (p-value
<0,001; PR 2,174; 95% CI 1,609-2,938) berhubungan signifikan dengan penerimaan
imunisasi rotavirus. Analisis multivariat menunjukkan persepsi hambatan
merupakan variabel dominan setelah dikontrol dengan isyarat untuk bertindak dan
persepsi keparahan (PR 1,581; 95% CI 1,097 – 2,278; p-value 0,014).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persepsi hambatan
adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan penerimaan imunisasi
rotavirus di wilayah kerja Puskesmas Arjasa. Oleh karena itu, diperlukan
peningkatan penyuluhan, terutama di Desa Darsono dan Desa Kemuning Lor,
mengenai pentingnya imunisasi rotavirus disertai optimalisasi pelaksanaan imunisasi
secara door to door yang didukung dengan penyuluhan personal untuk mengurangi
hambatan yang dirasakan ibu/wali bayi.
Description
Reuploud Repository hasyim Mei 2026
Validasi dan Finalisasi Ratna 17 juni 2026
