Gambaran Persepsi Perawat Tentang Budaya Adil (Just Culture) dalam Budaya Keselamatan (Safety Culture) di RSD dr. Soebandi Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Keselamatan pasien merupakan indikator penting dalam mutu pelayanan kesehatan. Namun, pelaporan insiden keselamatan pasien di Indonesia masih tergolong rendah karena adanya rasa takut disalahkan, adanya hukuman, dan budaya menyalahkan (blaming culture) yang masih berkembang di lingkungan kerja. Kondisi ini menyebabkan tenaga kesehatan khususnya perawat cenderung takut melaporkan, sehingga hal ini juga akan menghambat pihak rumah sakit untuk melakukan tindak lanjut dan evaluasi terkait insiden sebagai pembelajaran untuk mencegah terjadinya insiden berulang. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pelaporan insiden adalah penerapan budaya adil (Just Culture). Penelitian ini menjadi penting karena berdasarkan hasil studi pendahuluan meskipun RSD dr. Soebandi Jember telah menerapkan sistem pelaporan berbasis SIMRS serta investigasi menggunakan Root Cause Analysis (RCA), persepsi perawat sebagai pelapor utama belum pernah dievaluasi sehingga belum diketahui sejauh mana budaya adil telah dirasakan dalam praktik pelayanan sehari-hari. Secara teoritis, budaya adil merupakan bagian dari budaya keselamatan (safety culture) yang dikembangkan oleh James Reason. Budaya ini menekankan pemahaman kolektif tentang batas antara kesalahan yang tidak disengaja dan tindakan yang patut dipertanggungjawabkan. Budaya adil membedakan perilaku menjadi tiga kategori, yaitu human error, risk behavior, dan reckless behavior, sehingga organisasi dapat menentukan respons yang sesuai tanpa menyalahkan individu secara tidak adil. Persepsi perawat terhadap budaya adil dapat diukur melalui enam dimensi utama, yaitu umpan balik dan komunikasi, keterbukaan komunikasi, keseimbangan, kualitas proses pelaporan kejadian, perbaikan berkelanjutan, dan kepercayaan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat seluruh ruangan yang bekerja di RSD dr. Soebandi Jember yang berjumlah 460 orang. Sampel penelitian berjumlah 214 perawat yang diambil menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui google form menggunakan instrumen Just Culture Assessment Tool (JCAT) yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu, dengan hasil 25 item valid dan nilai Cronbach Alpha 0,93. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif seperti frekuensi, persentase, mean, median, serta standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia >35 tahun, didominasi oleh perempuan, sebagian besar memiliki pendidikan profesi ners, serta memiliki masa kerja >10 tahun. Secara keseluruhan, persepsi perawat terhadap budaya adil (just culture) di RSD dr. Soebandi Jember tergolong baik dengan nilai rata-rata total 135,66. Mayoritas perawat menunjukkan persepsi yang baik pada seluruh dimensi budaya adil, terutama pada dimensi keterbukaan komunikasi, kualitas proses pelaporan kejadian, serta perbaikan berkelanjutan yang menunjukkan bahwa sistem pelaporan sudah berjalan dengan baik dan perawat merasa cukup aman untuk melaporkan insiden. Namun, pada dimensi keseimbangan meskipun persepsi yang diberikan tergolong cukup baik, dimensi keseimbangan memiliki hasil yang relatif lebih rendah dibanding dimensi lain yang mengindikasikan bahwa konsistensi organisasi dalam membedakan kesalahan individu dan kesalahan sistem masih perlu diperkuat. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi perawat tentang budaya adil (just culture) dalam budaya keselamatan (safety culture) di RSD dr. Soebandi Jember termasuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa rumah sakit telah mampu membangun lingkungan kerja yang cukup adil, terbuka, dan mendukung pelaporan insiden sebagai bagian dari pembelajaran organisasi. Meskipun demikian, rumah sakit tetap perlu mempertahankan komunikasi terbuka serta meningkatkan konsistensi umpan balik dan penerapan keseimbangan akuntabilitas agar budaya adil dapat semakin optimal dan berkontribusi dalam peningkatan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Description

Validasi repository 18 Juni 2026_Firly/Naomy

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By