Tuturan Ekspresi Netizen Indonesia pada Kolom Komentar Postingan Konfrensi Pers Akun Instagram PT. Pertamina : Kajian Psikolinguistik

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Judul: “Tuturanْ Ekspresifْ Netizenْ Indonesiaْ pada Kolom Komentar Postingan Konferensi Pers Akun Instagram PT. Pertamina: Kajian Psikolinguistik”ْ: Ahmad Rofiqhi Laming; 220110201096; 2025; 112 halaman, Jurusan Sastra Indonesia; Fakultas Ilmu Budaya; Universitas Jember. Penelitian berjudul “Tuturan Ekspresif Netizen Indonesia pada Kolom Komentar Postingan Konferensi Pers Akun Instagram PT Pertamina: Kajian Psikolinguistik” dilatarbelakangi oleh perubahan pola komunikasi masyarakat di era digital, di mana media sosial menjadi ruang terbuka bagi publik untuk mengekspresikan pandangan, perasaan, dan sikap terhadap isu sosial yang sedang berlangsung. Kasus dugaan korupsi yang melibatkan PT Pertamina pada tahun 2025 memicu reaksi luas di ruang digital, terutama pada kolom komentar unggahan konferensi pers perusahaan tersebut. Ruang komentar itu kemudian menjadi medium ekspresi masyarakat yang memperlihatkan beragam bentuk tuturan yang berkaitan dengan emosi yang mereka rasakan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk tuturan netizen berdasarkan kategori emosi serta mengidentifikasi emosi yang paling sering diungkapkan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data diperoleh melalui metode simak dengan teknik screenshot dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan teori psikolinguistik serta teori dasar emosi dari Paul Ekman. Setiap komentar ditelaah melalui ciri-ciri kebahasaan seperti pilihan kata, pemarkah tekanan, struktur kalimat, penggunaan huruf kapital, serta penggunaan emotikon yang mempertegas kondisi emosional penuturnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan netizen dapat diklasifikasikan berdasarkan ragam emosi yang muncul pada kolom komentar. Dari keseluruhan data, emosi marah merupakan emosi yang paling sering diekspresikan oleh netizen. Kemarahan tersebut muncul dalam beberapa bentuk yang berbeda sehingga menunjukkan lapisan ekspresi yang beragam. Ada tuturan yang menggunakan kata ix kasar sebagai luapan kemarahan langsung kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ada pula tuturan yang menonjolkan kemarahan melalui penggunaan huruf kapital atau bentuk perintah, yang menandakan intensitas desakan terhadap perubahan kebijakan. Bentuk kemarahan lainnya tampak melalui komentar yang berisi kritik dan tuntutan, terutama yang berkaitan dengan transparansi, penegakan hukum, dan tanggung jawab moral lembaga terkait. Selain itu, kemarahan juga diekspresikan melalui bentuk sindiran atau sarkasme yang secara halus menunjukkan ketidakpuasan publik sekaligus merendahkan kredibilitas pihak yang disasar. Beberapa komentar memperkuat kemarahan melalui penggunaan emotikon yang secara ironi dipakai untuk menyindir atau memperuncing makna komentar. Selain emosi marah, penelitian ini juga menemukan tuturan yang mencerminkan emosi lain seperti kesedihan, ketakutan, kesenangan, dan kejijikan. Emosi sedih tampak melalui ungkapan kehilangan kepercayaan dan keputusasaan terhadap situasi yang terjadi. Emosi takut muncul pada komentar yang memperlihatkan kekhawatiran terhadap proses penegakan hukum maupun potensi masalah lanjutan yang dapat merugikan masyarakat. Emosi yang mencerminkan rasa keterharuan atau dukungan juga ditemukan meskipun jumlahnya tidak besar, biasanya berupa dorongan moral kepada institusi tertentu. Emosi jijik tampak melalui tuturan singkat yang menolak secara tegas tindakan yang dianggap bertentangan dengan norma moral. Keberagaman emosi tersebut menunjukkan bahwa kolom komentar tidak hanya berfungsi sebagai wadah kritik, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kondisi psikologis ketika menanggapi isu publik. Pembahasan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa yang digunakan netizen di media sosial mencerminkan cara mereka memaknai kondisi sosial dan psikologis yang sedang berlangsung. Media sosial menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat merespons isu secara cepat dan spontan, sehingga komentar yang muncul tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga wadah pelampiasan emosi dan penegasan sikap. Emosi marah yang mendominasi memperlihatkan adanya kekecewaan yang kuat terhadap kasus yang menimpa.

Description

Approved by Teddy

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By