Beban Sosial Kultural yang Melanggengkan Kemiskinan pada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Bantuan Sosial Pemerintah : Studi Kasus Pada Tiga Perempuan Single Parent Sebagai Kpm di Desa Bugeman Kabupaten Situbondo
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Masyarakat Desa Bugeman dengan latar belakang etnis Madura memiliki kebiasaan
yang mengikat dan tidak dapat dihindari di lingkungannya. Fakta uniknya,
ditemukan fenomena, terdapat tiga KPM perempuan single parent yang
mengalokasikan seluruh bantuan sosialnya bahkan sampai rela berhutang untuk
memenuhi kewajiban sosial tersebut. Ditinjau dari sisi kesejahteraan, tiga KPM
perempuan single parent ini tidak memenuhi kondisi sejahtera karena kurang
terpenuhinya kebutuhan dasar. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan budaya yang menjadi beban sosial kultural sekaligus dapat
melanggengkan kemiskinan. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode
kualitatif tipe studi kasus. Lokasi penelitian di Desa Bugeman Kabupaten
Situbondo. Berdasarkan teknik puprosive sampling diperoleh 3 informan utama dan
12 informan tambahan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara
mendalam (in-depth interview), observasi terbuka, dan studi dokumentasi. Data
dianalisis menggunakan tahapan kondensasi data, display data, dan kesimpulan
serta verifikasi data. Keabsahan data menggunakan standar kredibilitas,
dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pertama, sebuah nilai kekerabatan yang mencirikan karakter
perilaku masyarakat desa dengan etnis Madura, yang terwujud dalam kepedulian
dan tolong menolong dalam sistem sosial dan bersifat memaksa, di wilayah
penelitian, karakter perilaku ini menjadi budaya yang dikenal dengan istilah Téngka
dan Parlo. Kedua, dua budaya ini memberikan keuntungan relatif, namun juga
menjadi beban bagi KPM perempuan single parent yang berada dalam kondisi
kemiskinan, karena karakter masyarakat Madura yang menjadikan budaya ini tidak
dapat dihindari. Keterlibatan dalam dua budaya ini selalu berimplikasi pada biaya
sosial yang dibutuhkan, sehingga mengakibatkan pengalokasian seluruh bantuan
sosial untuk biaya sosial tersebut dan tercipta mata rantai kemiskinan yang sulit
diputus.
Description
Repo 9 Juni 2026_ Rudy K
Validasi dan Finalisasi oleh Ratna 9 Juni 2026
