Analisis Diksi Dan Gaya Bahasa Pada Stand Up Comedy Alwi Makassar Disomasi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Penelitian ini menganalisis penampilan viral komika Alwi Makassar di
acara SOMASI Deddy Corbuzier (akhir 2023). Menggunakan latar belakang
pribadinya sebagai mantan kuli bangunan, Alwi menciptakan satu alegori besar:
dunia proyek konstruksi dijadikan cermin politik Indonesia tahun 2024 tanpa
pernah menyebut nama tokoh atau partai secara langsung. Hasilnya, kritik
politiknya tajam, lucu, dan aman dari ancaman hukum.
Alwi memilih diksi khas yang konsisten sepanjang materi: kuli (rakyat
kecil/politisi biasa), mandor (pemimpin), proyek (negara), anak mandor
(nepotisme), kuli agamis (pencitraan religius), ibu kantin (pemimpin partai berlogo
banteng), Keratingdeng berlogo banteng (PDI-Perjuangan), hingga ruang tamu
(Jakarta yang banjir). Semua kata mengalami pergeseran makna denotatif ke
konotatif sehingga mudah dipahami semua kalangan, dari warga biasa hingga
netizen. Gaya bahasa paling dominan adalah satire yang menjadi nyawa seluruh
pertunjukan. Satire diperkuat oleh empat gaya pendukung: alegori berkelanjutan
(cerita proyek = sejarah bangsa), metafora konseptual (negara = proyek molor),
epitet simbolik (kuli pembual, mandor pertama), serta metonimia cerdas untuk
mengganti nama sensitif dengan simbol sehari-hari. Kelima gaya ini saling
menguatkan sehingga kritik terasa ringan di telinga namun berat di hati.
Melalui bahasa sederhana tersebut, Alwi berhasil menyentil isu-isu besar
politik dinasti dan putusan MK, pelanggaran etika pemilu, pencitraan agama,
dominasi partai tertentu, banjir ibu kota, janji-janji kosong, hingga kemunafikan
elite dan hilangnya semangat perjuangan generasi pendiri bangsa. Penonton tertawa
keras, tapi pulang bawa kesadaran kritis.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa di era kritik langsung sering berujung
pasal karet, stand-up comedy berbasis diksi analogis dan satire menjadi salah satu
bentuk perlawanan simbolik paling efektif dan paling manusiawi. Alwi Makassar
membuktikan bahwa bahasa kuli bisa jauh lebih berbahaya daripada somasi
pengacara, karena mampu menyomasi kekuasaan hanya lewat tawa. Panggung
komedi digital kini menjadi ruang terbuka terakhir bagi suara rakyat kecil.
Description
Reupload Repositori File 25 Mei 2026_Kholif Basri
Validasi dan Finalisasi oleh Ratna 11 Juni 2026
