Pengaruh NAA (Naphthaleneacetic Acid) dan BAP (Benzyl Amino Purin) Terhadap Regenerasi Tanaman Krisan (Chrysanthemum indicum L.) Secara In Vitro
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Tanaman krisan (Chrysanthemum indicum L.) termasuk ke dalam jenis bunga
potong yang cukup populer dengan total produksi menurut BPS (2024), mencapai
464.604.008 tangkai dengan total peningkatan permintaan ekspor mencapai
67,95%. Berdasarkan data tersebut menggambarkan potensi dari bunga krisan yang
cukup besar, namun muncul kekawatiran dalam pemenuhan kebutuhan dengan total
produksi tersebut. Perbanyakan tanaman krisan dilakukan dengan menggunakan
stek pucuk. Namun, stek pucuk membutuhkan bahan tanamn berupa tunas aksilar
yang berasal dari tanaman induk. Permasahalan yang timbul yakni tanaman induk
krisan memiliki keterbatasan umur produktif selama 4 bulan, sehingga diperlukan
regenerasi tanaman induk secara berkala. Untuk memproduksi tanaman induk
secara cepat, efisien dan bersifat unggul maka diperkukan metode perbanyakan
tanaman krisan secara in vitro. Proses perkembangan tanaman secara in vitro
sendiri didasari oleh teori Totipotensi sel, dimana sel tanaman mampu untuk
beregenerasi menjadi tanaman baru secara utuh dengan sifat serupa indukan. Proses
regenerasi dari tanaman krisan secara in vitro terjadi secara indirect organogenesis.
Proses regenerasi sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, utamanya yakni Zat
Pengatur Tumbuh (ZPT) yang digunakan. Kombinasi hormon sitokinin (BAP) dan
auksin (NAA) terbukti lebih efektif dibandingkan penggunaan tunggal. Penelitian
ini bertujuan mengkaji pengaruh interaksi konsentrasi NAA dan BAP terhadap
regenerasi krisan dari eksplan daun secara in vitro. Penelitian menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor (konsentrasi NAA dan BAP),
terdiri dari 16 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 3 kali. Parameter
yang diamati meliputi data kuantitatif yakni persentase eksplan swelling, persentase
eksplan berkalus, persentase eksplan bertunas, persentase eksplan berakar, kedinian
tunas dan akar, jumlah tunas dan akar, serta data kualitatif berupa histologi kalus.
Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan DMRT 95% jika signifikan.
Hasil dari penelitian yang diperoleh yakni Perlakuan terbaik untuk jumlah tunas
adalah N1B3 (0,25 ppm NAA + 0,75 ppm BAP) dengan rata-rata 4 tunas, dan
kedinian tunas tercepat pada N2B1 (0,50 ppm NAA + 0,25 ppm BAP) yaitu 42,6
HST. Secara tunggal, NAA berpengaruh nyata terhadap kalus, tunas, akar, serta
kedinian tunas dan akar, sementara BAP berpengaruh terhadap jumlah dan
persentase tunas serta kedinian tunas.
Description
reeapload 2026 Rudi H
:: Finalisasi Repositori File 11 Juni 2026_Kurnadi
