Penyutradaraan Film Kita Punya Sedikit Waktu Untuk Bicara: Penerapan Gaya Penyutradaraan Minimalisme, Dialogic Theory Untuk Menyampaikan Perasaan Karakter Utama

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Kita Punya Sedikit Waktu Untuk Bicara adalah sebuah film pendek fiksi yang bercerita tentang percakapan antara seorang pengidap AIDS stadium akhir bernama Nadia dan malaikat pencabut nyawa bernama Liarzi di lorong rumah sakit. Film ini mengangkat tema kebahagiaan, sebuah fenomena universal yang sering dianggap sederhana tetapi nyatanya kompleks dan berbeda bagi setiap orang. Dalam menciptakan film ini, pengkarya menerapkan gaya penyutradaraan minimalisme yang menekankan kesederhanaan visual dan suasana intim, serta menggunakan dialogic theory yang dikembangkan oleh Bakhtin untuk menghadirkan dialog intens sebagai medium utama penyampaian cerita. Selain itu, pengkarya juga memanfaatkan teori psikoanalisis Freud tentang id, ego, dan superego untuk membangun karakter dan konflik batin di dalam cerita. Proses penciptaan film ini dimulai pada Juni 2024 dengan brainstorming ide dan riset mendalam melalui wawancara dengan psikolog, dokter, serta pengamatan lingkungan sekitar. Pada tahap praproduksi, pengkarya menghadapi tantangan sulitnya menemukan pemain yang sesuai karena keterbatasan sumber daya aktor di Kabupaten Jember, sehingga harus mencari melalui media sosial dan melakukan casting secara selektif. Syuting film dilakukan selama dua hari pada 20–21 November 2024, dengan pengambilan gambar yang dilakukan secara berurutan sesuai naskah untuk menjaga kontinuitas emosi dan cerita. Proses pasca produksi dimulai sejak hari pertama syuting melalui offline editing sebagai quality control, kemudian dilanjutkan online editing seperti color grading dan sound design hingga menghasilkan file akhir yang siap diputar. Film ini dibuat menggunakan kamera Sony FX3 dan Canon Cinema Prime Lens untuk menonjolkan detail emosi melalui close-up shot, serta diperkaya dengan suara diegetik dan musik atmosferik yang mendukung suasana lorong rumah sakit. Dalam keseluruhan proses, pengkarya berupaya menjaga kesederhanaan gaya visual dan mengandalkan dialog sebagai inti narasi, dengan tujuan mengajak penonton merenungkan makna kebahagiaan yang sering kali tidak disadari keberadaannya. Melalui film ini, pengkarya berharap dapat menyuguhkan karya yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi penonton tentang arti kebahagiaan dalam hidup.

Description

Reupload Repositori File 02 Juni 2026_Kholif Basri :: Finalisasi Repositori File 4 Juni 2026_Kurnadi

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By