Sintesis Superabsorben Hidrogel Berbasis Selulosa Untuk Aplikasi Pupuk Lepas Lambat
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Tongkol jagung merupakan salah satu biomassa lignoselulosa dengan
kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin masing-masing bisa mencapai 36%,
38%, dan 21%. Berdasarkan kandungannya tongkol jagung dapat dikonversi
menjadi selulosa. Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel
tanaman. Selulosa tersusun atas polimer dengan rantai lurus dari 1,4 β-D glukosa.
Selulosa dapat diisolasi dengan delignifikasi menggunakan NaOH dan bleaching
menggunakan H2O2 untuk menghasilkan gel selulosa. Berdasarkan kemampuan
hidrofiliknya selulosa dapat disintesis menjadi Superabsorben Hidrogel (SAH)
untuk aplikasi pupuk lepas lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis
selulosa menggunakan epiklorohidrin sebagai pengikat silang dan mengkaji sifat
absorbsinya terhadap air dan pelepasan urea.
Penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap, diantaranya isolasi selulosa,
sintesis SAH, dan karakterisasi SAH. Tahap isolasi selulosa dilakukan delignifikasi
dengan larutan NaOH untuk menghilangkan lignin dan hemiselulosa, serta
bleaching dengan larutan H2O2 untuk menghilangkan sisa lignin dan memperoleh
selulosa. Tahap sintesis menggunakan larutan NaOH/urea suhu dingin (-13 °C)
untuk melarutkan selulosa dan diikat silang menggunakan variasi epiklorohidrin
(2,5; 5; 7,5; 10; dan 11%) lalu di oven (60 °C) selama 24 jam. SAH kemudian
dikarakterisasi melalui derajat swelling, water retention, pelepasan urea
menggunakan spektrofotometri UV-Vis, spektroskopi FTIR, dan Scanning
Electron Microscopy (SEM).
Hasil isolasi selulosa menghasilkan rendemen sebesar 14-26% dan secara
fisik terjadi perubahan warna dari biomassa yang berwarna coklat menjadi selulosa
berwarna putih. Analisis FTIR menunjukkan bahwa selulosa mempunyai gugus
aktif berupa -OH, -CH, dan C-O. Analisis FTIR pada SAH mengkonfirmasi
terjadinya perubahan gugus fungsi setelah proses sintesis, yaitu terdapat ikatan C
O yang menandakan terbentuknya ikatan silang dengan ECH. Analisis Scanning
Electron Microscopy (SEM) dilakukan untuk mengetahui morfologi permukaan
SAH. Hasil morfologi telah menunjukkan adanya perubahan kerapatan dengan
meningkatnya konsentrasi ECH. Parameter fisikokimia dari SAH ditentukan dari
perubahan SAH saat dilakukan swelling dengan derajat swelling SAH 10% dan
11% masing-masing 145.87% dan 116.93%. Pengukuran water retention (WR)
SAH 10% dan 11% masing-masing mengalami penurunan setelah 96 jam sebesar
105% pada SAH 10% dan 83% pada SAH 11%. Hidrogel dengan konsentrasi ECH
10% menunjukkan kemampuan mempertahankan air lebih tinggi dibandingkan
konsentrasi ECH 11%. Profil pelepasan urea pada SAH 10% dan 11% mengikuti
mekanisme difusi, di mana SAH 10% menunjukkan pelepasan lebih tinggi akibat
struktur jaringan yang lebih longgar. Pada SAH 11% dengan ikatan silang lebih
tinggi memiliki laju pelepasan lebih lambat, dengan nilai R² sebesar 0,998 dan
persentase pelepasan masing-masing 4,59% dan 4,35%
Description
Reupload Repositori File 03 Juni 2026_Kholif Basri
Validasi file repositori 2 Juni 2026_Dea_Firli
