Determinan Kematian Neonatal di Kabupaten Jember Tahun 2024
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
World Health Organization (WHO) pada tahun 2022 menyatakan bahwa
kematian bayi didominasi oleh kematian bayi di fase neonatal sebesar 17,3/1000
KH pada tahun 2022. Di Indonesia laporan kematian neonatal tercatat sebesar
27.530 kasus atau 80,4% dari total kematian bayi tahun 2023. Kabupaten Jember
menempati posisi kedua Kabupaten/Kota di provinsi Jawa Timur dengan angka
kematian neonatal tertinggi sebanyak 274 kasus atau 8,2/1000 KH. Oleh karena itu
penelitian ini dilakukan untuk menganalisis determinan penyebab kematian
neonatal di Kabupaten Jember pada tahun 2024.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan
pendekatan case control yang dilakukan di wilayah Kabupaten Jember dari bulan
Januari hingga April 2025 dengan jumlah sampel yaitu 42 kelompok kasus dan 42
kelompok kontrol. Pengambilan anggota sampel pada penelitian ini adalah
menggunakan teknik purposive sampling dan simple random sampling atau
pengambilan sampel sesuai area atau wilayah tertentu yang kemudian diambil
secara acak sesuai kebutuhan sampel. Penelitian ini dilakukan dengan dua teknik
pengambilan data yakni teknik studi dokumentasi untuk memperoleh data usia ibu,
usia kehamilan, lingkar lengan atas, status anemia, komplikasi, paritas, berat bayi
lahir, jarak kelahiran, kunjungan ANC, penolong dan tempat persalinan serta
metode persalinan yang digunakan, sementara wawancara secara langsung
digunakan untuk memperoleh data tingkatan paparan asap rokok ibu hamil selama
masa kehamilan dengan kuesioner Secondhand Smoke Exposure Scale (SHSES)
yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data penelitian ini
menggunakan analisis univariabel, dan bivariabel uji chi square dengan derajat
kepercayaan (Cl) 95%. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan pada
kategori usia kehamilan <37 minggu & >42 minggu mempunyai risiko 3,5 kali lebih
besar untuk mengalami kematian neonatal. Bayi yang dilahirkan dengan riwayat
mengalami komplikasi kehamilan atau persalinan mempunyai risiko 4,2 kali lebih
besar untuk mengalami kematian neonatal dibandingkan dengan bayi yang tidak
mengalami riwayat komplikasi kehamilan atau persalinan. Bayi yang terlahir
dengan berat bayi lahir berisiko memiliki risiko 4,4 kali lebih besar untuk
mengalami kematian neonatal dibandingkan dengan bayi yang terlahir dengan berat
bayi lahir tidak berisiko. Bayi yang terlahir dari responden yang menggunakan
metode persalinan pervagina 0,194 protektif untuk mengalami kematian neonatal
dibandingkan dengan bayi yang terlahir menggunakan metode persalinan
perabdominan.
Mayoritas responden kasus kematian neonatal di Kabupaten Jember tahun
2024 memiliki karakteristik seperti usia ibu dan usia kehamilan tidak berisiko,
ukuran LILA normal, tidak berisiko anemia, paritas yang ideal, memiliki riwayat
komplikasi, terpapar berat asap rokok pada masa kehamilan, jarak kelahiran ideal,
berat bayi lahir berisiko, kunjungan ANC yang tidak sesuai setiap trimester,
melakukan persalinan di fasilitas layanan kesehatan dengan bantuan tenaga
kesehatan, serta menggunakan metode persalinan perabdominan (tindakan). Dinas
Kesehatan Kabupaten Jember diharapkan dapat mengoptimalkan program deteksi
dini risiko kehamilan melalui antenatal care (ANC) serta meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan bagi tenaga kesehatan dan kader – kader posyandu
dalam pemantauan dan pencatatan pelayanan ANC dan ibu hamil berisiko tinggi.
Description
Reupload File Repositori 31 Maret 2026_Maya/Lia
