Sinergisme in vitro antar Isolat Aktinomisetes Kandidat Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Asal Rizosfer Tembakau (Nicotiana tabacum L.)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Abstract

Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) merupakan bakteri yang hidup di sekitar atau pada permukaan tanah akar tanaman. PGPR memiliki peran dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui aktivitas biologisnya. Sebanyak 5 aktinomisetes yang berasal dari rizosfer tembakau pada penelitian sebelumnya diketahui memiliki karakter sebagai PGPR dengan potensi yang berbeda. Kelima aktinomisetes tersebut yaitu Streptomyces ATG 62 (pelarut fosfat), Streptomyces ATG 57 (selulolitik dan kitinolitik), Saccharomonospora ATG 34 (antifungi), Streptomyces ATG 66 (produksi IAA), dan Streptomyces ATG 36 (fiksasi nitrogen). Kelima aktinomisetes tersebut berpotensi dijadikan konsorsium untuk meningkatkan fungsinya sebagai promotor pertumbuhan. Syarat aktinomisetes dapat dikonsorsiumkan adalah harus memiliki interaksi yang saling sinergis. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan aktinomisetes kandidat PGPR yang bersinergi (tidak saling menghambat), sehingga dapat menjadi konsorsium. Penelitian ini diawali dengan peremajaan 5 isolat aktinomisetes kandidat PGPR yakni Streptomyces ATG 62 (pelarut fosfat), Streptomyces ATG 57 (selulolitik dan kitinolitik), Streptomyces ATG 66 (penghasil IAA), Streptomyces ATG 36 (pemfiksasi nitrogen), dan Saccharomonospora ATG 34 (antifungi) pada media cawan agar ISP-4. Kelima aktinomisetes diuji patogenisitasnya terhadap hewan dan manusia melalui uji hemolisis. Uji hemolisis dilakukan pada media agar darah untuk mengetahui kemampuan aktinomisetes dalam memproduksi hemolisin. Hemolisin dapat menyebabkan lisis pada sel darah merah, sehingga keberadaannya dikaitkan dengan sifat patogen pada mikroorganisme. Aktinomisetes kandidat PGPR yang non-hemolitik (γ-hemolisis), selanjutnya dihitung kepadatan sporanya untuk digunakan sebagai inokulum pada uji hipersensitivitas. Uji hipersensitivitas dilakukan untuk mengetahui patogenisitas aktinomisetes terhadap tumbuhan. Aktinomisetes yang bersifat patogen dapat menimbulkan respon hipersensitif, yang ditunjukkan dengan gejala nekrosis di sekitar titik injeksi. Pengujian sinergisme antar isolat dilakukan pada aktinomisetes yang non hemolitik dan tidak menunjukkan reaksi hipersensitif pada uji hipersensitivitas. Metode yang digunakan dalam uji sinergisme antar isolat kandidat PGPR adalah difusi sumur. Interaksi sinergis dinilai dari tidak adanya zona bening di sekitar sumuran.

Description

Reupload file repository 30 Maret 2026_Ratna

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By