Gambaran Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Sopir Ambulans Desa di Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung yang merupakan penyakit utama dan dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi. Henti jantung merupakan kejadian kegawatdaruratan yang membutuhkan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan merupakan pertolongan pertama yang dilakukan pada korban henti jantung. Kejadian tersebut bukan hanya terjadi di dalam rumah sakit namun juga bisa terjadi di luar rumah sakit yang biasa di sebut Out of Hospital Cardiac Arrest (OHCA). OHCA adalah masalah kesehatan utama dengan tingkat kelangsungan hidup global di bawah 10%. Dalam kurun waktu 3 tahun, Asia Pasifik mengalami 60.000 kasus henti jantung di luar rumah sakit. Jumlah kasus henti jantung di luar rumah sakit di Indonesia diperkirakan mencapai 30 kasus per hari. Bystander atau masyarakat awam dapat memainkan peran penting sebagai first responder dalam memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di tempat kejadian kepada korban henti jantung. Sopir ambulans desa dapat menjadi first responder dalam situasi kegawatdaruratan selama mengantarkan pasien dari desa menuju fasilitas layanan kesehatan terdekat, karena sopir ambulans desa tidak di dampingi oleh tenaga medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan bantuan hidup dasar sopir ambulans desa di Kabupaten Jember. Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif menggunakan cross sectional dengan melibatkan 71 sopir ambulans desa di Kabupaten Jember dengan menggunakan cluster sampling. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tingkat pengetahuan BHD yang berisi 18 pertanyaan dengan jenis kuesioner pertanyaan tertutup yang berupa multiple choice dan sudah di uji validitas dengan nilai r > 0,3 untuk setiap pertanyaan dan reliabilitas dengan nilai 0,915. Pertanyaan pada kuesioner ini mencakup pengertian BHD, indikasi BHD, prinsip-prinsip BHD, dan langkah-langkah melakukan BHD. Hasil penelitian pada 71 responden didapatkan karakteristik responden sebagian besar berusia 36-45 tahun (40,8%), pendidikan terakhir dari seluruh responden mayoritas SMA (78,9%), mayoritas responden telah lama bekerja >3 tahun (98,6%), seluruh responden pernah mendapatkan pelatihan BHD (100%), tetapi dari seluruh responden terdapat (56,3%) belum pernah melakukan BHD dan sisanya telah pernah melakukan BHD, responden mendapatkan sumber informasi mengenai BHD sebagian besar dari pelatihan (98,6%). Pengetahuan BHD responden berada pada kategori cukup (67,6%) dan pengetahuan sopir ambulans desa pada setiap indikator yang memiliki pengetahuan baik (100%) yaitu pada indikator pengertian BHD dan indikasi BHD, sedangkan pada indikator prinsip-prinsip BHD 32 responden (45,1%) memiliki pengetahuan kurang serta pada indikator langkah-langkah BHD terdapat 42 responden (59,2%) juga memiliki pengetahuan kurang. Pengetahuan yang paling dikuasai oleh responden adalah pengetahuan tentang pengertian BHD dan indikasi BHD dengan persentase benar (100%) lalu prinsip-prinsip BHD persentase benar (60,1%) dan langkah-langkah BHD persentase benar yaitu (51,2%). Meskipun belum optimal, kategori cukup menunjukkan dasar pengetahuan yang bisa menjadi landasan untuk pembelajaran lebih lanjut dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan sopir ambulans desa dalam menangani kasus kegawatdaruratan.

Description

Reupload file repositori 10 Mar 2026_Maya

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By