Pengaruh Konsentrasi 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D) dan Furfuryle Amino Purine (Kinetin) Terhadap Regenerasi Eksplan pada Kultur Anther Tanaman Tembakau (Nicotiana Tabacum L.)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Tanaman tembakau termasuk salah satu tanaman perkebunan yang mampu hidup diiklim tropis dan umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pembuatan rokok. Tanaman tembakau juga memiliki nilai ekonomi tinggi yang dibuktikan dengan peningkatan nilai ekspornya dari tahun 2020 sebesar US$ 196,01, meningkat di tahun 2021 menjadi US$ 213,41 hingga di tahun 2022 meningkat drastis menjadi US$ 266,026. Adanya nilai ekonomi yang tinggi dari tanaman tembakau sebagai bahan baku industri rokok tentu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitasnya yang salah satunya melalui upaya penggunaan varietas unggul hibrida. Sehingga mampu mendapatkan hasil tanaman tembakau yang berkualitas. Namun, dalam produksi varietas hibrida memerlukan adanya tanaman galur murni yang umumnya didapatkan dengan metode pemuliaan konvensional melalui persilangan sendiri 7-8 generasi. Hal itu menandakan perlu waktu cukup lama sehingga diperlukan teknik yang cepat salah satunya kultur jaringan yaitu kultur anther. Kultur anther dapat menghasilkan tanaman haploid yang ini mampu mempercepat perolehan galur murni nantinya meskipun pada generasi pertama melalui penggandaan kromosom. Adapun salah satu faktor yang mempengaruhi dalam kultur anther yaitu pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) seperti golongan auksin berupa 2,4-D dan sitokinin berupa Kinetin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi konsentrasi dari kedua ZPT yang optimal terhadap regenerasi eksplan pada kultur anther tanaman tembakau. Adapun rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor yaitu faktor konsentrasi 2,4-D dengan 4 taraf dan faktor konsentrasi Kinetin 4 taraf sehingga total terdapat 16 kombinasi. Kemudian, diulang sebanyak 3 kali dan didapatkan total percobaan sebanyak 48 unit percobaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh data kuantitatif yaitu kedinian eksplan swelling, kedinian eksplan berkalus, kedinian tunas, kedinian akar, persentase eksplan swelling, dan persentase eksplan berkalus. Sedangkan data kualitatifnya berupa warna dan tekstur kalus, analisis Scanning Electron Microscope (SEM) anther tanaman tembakau, serta perkembangan visual kultur anther tanaman tembakau. Data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan uji Analysis Of Variances (ANOVA) dan apabila hasilnya signifikan maka diuji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95%. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar, tabel, ataupun grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi 2,4-D dan Kinetin memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kedinian eksplan swelling dan persentase eksplan swelling serta perngaruh nyata terhadap kedinian eksplan berkalus. Pada perlakuan konsentrasi 2,4-D memberikan pengaruh nyata terhadap persentase eksplan berkalus dan pada perlakuan konsentrasi Kinetin berpengaruh sangat nyata terhadap persentase eksplan berkalus. Sehingga masih mampu mendorong dan berpengaruh terhadap semua parameter swelling dan berkalus. Taraf perlakuan terbaik untuk kedinian eksplan swelling dan berkalus terdapat pada interaksi konsentrasi 2,4-D dan Kinetin yaitu D1K3 (2,4-D 0,1 ppm + Kinetin 0,4 ppm) dengan waktu 3,67 HSI dan 28,33 HSI. Sementara itu, perlakuan terbaik untuk persentase eksplan swelling yaitu D1K2 (2,4-D 0,1 ppm + Kinetin 0,2 ppm) sebesar 100% dan pada persentase eksplan berkalus adalah 2,4-D tunggal yaitu D3 (2 ppm) sebesar 36,67%. Namun, untuk interaksi keduanya ataupun pemberian 2,4-D tunggal tidak mampu berpengaruh dan mendorong regenerasi membentuk tunas dan akar. Berbeda pada pemberian Kinetin yang dapat memberikan pengaruh khususnya terhadap regenerasi eksplan tembakau melalui kultur anther dengan munculnya respon tunas dan akar. Perlakuan konsentrasi terbaik adalah K3 (0,4 ppm) dengan waktu kedinian tunas 98 HSI atau 38,3 hari setelah swelling dan kalus. Kemudian, untuk kedinian akarnya yaitu 105 HSI atau 7 hari setelah swelling, kalus, dan tunas.
Description
Reupload file repository 26 Februari 2026_Yudi
