Proses Berpikir Mahasiswa dalam Pembuktian Teorema De Ceva pada Mata Kuliah Geometri Dasar
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Secara khusus, geometri tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan
faktual dan konseptual, melainkan juga keterampilan untuk berpikir logis, kritis, dan kreatif
dalam berbagai bidang kehidupan. Keterampilan tersebut salah satunya dapat dilatih
melalui pembuktian teorema dalam geometri. Pembuktian sangat penting karena membuat
kebenaran dari hipotesis teruji dan membuat mahasiswa berpikir secara logis dan
sistematis. Meskipun begitu, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan masalah pembuktian. Adapun penelitian pendahuluan, yang menyimpulkan
bahwa beberapa kesalahan dalam membuktikan sebuah segitiga. Kesalahan-kesalahan
tersebut ialah kesalahan dalam representasi simbol matematis, kesalahan dalam kontradiksi
ketidaksetaraan segitiga, kesalahan dalam penulisan jawaban dan kesalahan dalam proses
pembuktian. Kesalahan tersebut terjadi karena mahasiswa tidak memiliki kemampuan awal
mengenai geometri dasar yang baik dan juga beberapa istilah matematika yang tidak
didapatkan pada tingkat sekolah menengah. Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk
mengetahui proses berpikir mahasiswa. Proses berpikir melibatkan perolehan, pemrosesan,
penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi untuk mendukung pemecahan masalah
dan pengambilan keputusan secara efektif. Proses berpikir adalah proses kognitif yang
kompleks yang melibatkan disekuilibrium, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium untuk
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan proses berpikir mahasiswa dengan kemampuan rendah, tinggi dan sedang
dalam pembuktian teorema de ceva.
Penelitian dilakukan di Universitas Jember, lokasi penelitian dipilih dengan
pertimbangan bahwa belum pernah ada penelitian sejenis yang dilaksanakan di institusi
tersebut, serta mahasiswa yang menjadi responden telah mempelajari materi teorema Ceva
sebelumnya. Subjek penelitian ini ialah mahasiswa program studi matematika kelas B
semester genap tahun ajaran 2023/2024, yang diambil dengan teknik random sampling
dengan jumlah 3 mahasiswa yang memiliki kemampuan matematika rendah, sedang dan
tinggi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, wawancara dan
dokumentasi. Tahapan analisis data meliputi kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Validitas data dijamin melalui penerapan triangulasi metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kemampuan matematika
rendah hanya mampu menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan tanpa
memahami langkah-langkah pembuktian. Mereka mengalami kebingungan (disequilibrium)saat menentukan langkah lanjutan, tetapi mulai memasuki tahap asimilasi ketika dapat
menjawab informasi terkait soal, seperti nama teorema dan segitiga yang sebangun beserta
alasannya.Selanjutnya, dalam tahap akomodasi, mereka mencoba menggunakan
perbandingan rumus luas segitiga untuk menyelesaikan soal meskipun awalnya salah.
Proses ini berlanjut hingga mereka mencapai equilibrium, di mana jawaban yang dihasilkan
diyakini benar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kemampuan matematikanya rendah,
mahasiswa dapat menyelesaikan pembuktian melalui serangkaian proses belajar yang
berulang hingga memahami langkah-langkahnya. Mahasiswa dengan kemampuan
matematika sedang memulai dengan menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan
pada soal, menunjukkan asimilasi saat menyebutkan informasi tersebut dan nama teorema
terkait. Ketika salah menyebutkan informasi atau bingung menentukan langkah lanjutan,
mereka mengalami disequilibrium. Setelah diberikan pemahaman oleh peneliti, mahasiswa
memasuki tahap akomodasi dengan mencoba memperbaiki jawaban menggunakan
perbandingan rumus luas segitiga yang sebangun. Proses ini membantu mereka mencapai
equilibrium, di mana jawaban yang dihasilkan diyakini benar. Mahasiswa juga
menunjukkan asimilasi ketika mampu menyebutkan tinggi segitiga dan segitiga yang
sebangun. Setelah mendapatkan penjelasan, mereka dapat menjelaskan kembali secara
runtut, menandakan keberhasilan mencapai equilibrium. Mahasiswa dengan kemampuan
matematika tinggi dengan mudah menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanyakan
pada soal, menunjukkan proses asimilasi. Akomodasi terjadi ketika mereka diam sejenak
sebelum menyebutkan informasi yang ditanyakan dengan benar. Mereka juga menunjukkan
asimilasi saat menyebutkan segitiga yang sebangun dan tinggi segitiga. Mahasiswa ini
menjelaskan proses pembuktian secara runtut dengan alasan yang jelas, menunjukkan
pencapaian equilibrium. Hal ini terlihat saat mereka menjelaskan langkah-langkah secara
detail, menyebutkanِ “Lalu diperoleh 𝐴𝐹𝐹𝐵∙𝐵𝐷𝐷𝐶∙𝐶𝐸𝐸𝐴=𝐿∆𝐶𝐴𝑃𝐿∆𝐶𝐵𝑃∙𝐿∆𝐶𝐵𝑃𝐿∆𝐴𝑃𝐵∙𝐿∆𝐴𝑃𝐵𝐿∆𝐶𝐴𝑃
lalu kita coret 𝐿∆𝐶𝐴𝑃 dengan 𝐿∆𝐶𝐴𝑃 lalu 𝐿∆𝐶𝐵𝑃 dengan 𝐿∆𝐶𝐵𝑃 lalu dan 𝐿∆𝐴𝑃𝐵 dengan 𝐿∆𝐴𝑃𝐵
sehinggaِ diperolehِ hasilnyaِ samaِ denganِ1.”ِ
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 26
