Tingkat Pendidikan Ibu dan Perilaku Pemberian MPASI sebagai Determinan Perawakan Baduta di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
buhan dan perkembangan anak yang berdampak jangka panjang terhadap
kesehatan dan kecerdasannya. Pada masa ini, anak sangat rentan terhadap gangguan
nutrisi, termasuk stunting, yang masih menjadi masalah kesehatan serius di
Indonesia. Berdasarkan data SSGI 2022, Kabupaten Jember mencatat prevalensi
stunting tertinggi di Jawa Timur sebesar 34,9%. Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap perawakan anak adalah tingkat pendidikan ibu, karena berhubungan
dengan pengetahuan gizi dan kemampuan ibu dalam mengasuh anak. Diketahui
sebanyak 32,42% perempuan di Kabupaten Jember tidak tamat SD, yang nantinya
berpotensi memengaruhi kualitas pengasuhan anak. Selain itu, perilaku pemberian
MPASI juga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan anak. MPASI
yang tidak sesuai, seperti pemberian terlalu dini, dapat menyebabkan gangguan
kesehatan seperti diare, yang berdampak pada perawakan anak. Berdasarkan hal
tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat
pendidikan ibu dan perilaku pemberian MPASI dengan perawakan baduta di
Kabupaten Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024
hingga Februari 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 100 baduta yang tersebar di
wilayah kerja 10 puskesmas di Kabupaten Jember. Data tingkat pendidikan ibu dan
perilaku pemberian MPASI diambil dengan metode wawancara menggunakan
kuesioner, sedangkan data sekunder berupa data panjang atau tinggi badan anak
diperoleh dari buku KIA. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji korelasi
Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar subjek penelitian berada pada
rentang usia 12-24 bulan dengan jumlah sama banyak antara laki-laki dan
perempuan. Sebagian besar baduta sudah mendapatkan ASI eksklusif. Sebagian
besar ibu baduta yang menjadi sumber penelitian berusia 20-35 tahun, status tidak
bekerja atau ibu rumah tangga, dan memiliki penghasilan keluarga per bulan lebih
dari Rp 1.916.983. Mayoritas ibu baduta memiliki tingkat pendidikan terakhir
menengah atau SMA sederajat dan mayoritas baduta tidak mendapatkan pemberian
MPASI secara tepat. Sebanyak 55 baduta dari 100 baduta memiliki perawakan
normal, 36 baduta memiliki perawakan pendek, 3 baduta memiliki perawakan
sangat pendek, dan 6 baduta berperawakan tinggi. Hasil uji korelasi Spearman
antara tingkat pendidikan ibu dengan perawakan baduta menunjukkan nilai p-value
sebesar 0,944 yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat
pendidikan ibu dengan perawakan baduta. Hasil uji korelasi Spearman antara
perilaku pemberian MPASI dengan perawakan baduta menunjukkan nilai p-valuesebesar 0,969 sehingga diketahui bahwa tidak terdapat hubungan pula antara kedua
variabel tersebut. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena perawakan baduta
dapat dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti usia ibu, pekerjaan ibu, pola asuh,
status ekonomi keluarga, sanitasi lingkungan, akses terhadap layanan kesehatan,
dan lain sebagainya. Penelitian lebih lanjut dapat menambahkan variabel-variabel
lain yang dapat memengaruhi perawakan baduta.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 25
