Analisis Efektivitas Biaya Terapi Antibiotik pada Pasien Pneumonia Anak di RSD dr. Soebandi

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Farmasi

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu jenis dari infeksi saluran pernapasan bagian bawah yang tingkat kejadiannya terus meningkat. Penggunaan antibiotik pada terapi pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri bervariasi, bergantung pada tingkat keparahan pneumonia dan faktor risiko yang dialami pasien. Pengobatan dan perawatan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri tidak hanya merupakan ancaman kesehatan yang serius, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi yang bermakna. Terapi antibiotik empiris yang cost-effective menunjukkan keberagaman, sehingga diperlukan analisis efektivitas biaya untuk mengevaluasi terapi yang digunakan pada pasien pneumonia anak rawat inap di RSD dr. Soebandi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran profil pasien, profil penggunaan antibiotik, gambaran efektivitas dan biaya medik langsung, serta analisis efektivitas biaya penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia anak yang dirawat inap di RSD dr. Soebandi. Penelitian ini merupakan studi farmakoekonomi yang dilakukan dengan membandingkan biaya penggunaan antibiotik empiris dan efektivitas terapi. Pengambilan data dilakukan secara retorspektif dengan melihat data rekam medis dan billing pasien selama periode 2024. Pengumpulan data dilakukan dengan metode total sampling. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data rekam medis dan data billing pasien dari Elektronik Rekam Medis (ERM) dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) selama periode 2024. Data pasien yang memenuhi kriteria inklusi adalah sebanyak 118 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien pneumonia anak berada pada rentang usia 0-1 tahun (33,90%), mayoritas berjenis kelamin laki-laki (58,47%), dan 118 pasien (100%) menderita pneumonia dengan komorbiditas, di mana komorbiditas terbanyak adalah penyakit neurologis (22,03%). Terapi antibiotik yang paling banyak digunakan adalah sefotaksim intravena (57,62%). Pada tingkat kesembuhan dalam 5 hari, sefotaksim i.v. menunjukkan persentase tertinggi (76,47%). Sedangkan pada tingkat kesembuhan dalam 7 hari, antibiotik dengan persentase tertinggi juga adalah sefotaksim i.v. (94,12%). Pasien yang memiliki rata-rata lama rawat inap tercepat adalah pasien yang mendapatkan terapi sefotaksim i.v., yaitu selama 5,03 hari. Seftriakson i.v. memiliki median biaya rawat inap tertinggi, yaitu sebesar Rp 5.231.715, dengan komponen biaya terbesar berasal dari obat & Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), yakni sebesar Rp 520.932. Nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) dari seftriakson i.v. terhadap sefotaksim i.v. adalah Rp 30.721 per tingkat kesembuhan. Hasil analisis cost-effectiveness menunjukkan bahwa regimen antibiotik tunggal sefotaksim i.v. merupakan pilihan yang lebih cost-effective dibandingkan seftriakson i.v.

Description

Reuploud file repositori 24 Feb 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By