Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI SMA Ditinjau dari Self Efficacy dalam Menyelesaikan Soal Induksi Matematika

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Abstract

Keterampilan abad 21 dikenal dengan istilah 4C yaitu critical thinking and problem solving (Berpikir kritis dan pemecahan masalah), communication (komunikasi), creativity and innovation (kreativitas dan inovasi), dan collaboration (kolaborasi) (Kemendikbud, 2020). Oleh karena itu salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk mengikuti perkembangan dunia abad 21 adalah kemampuan berpikir kritis. Konsep dasar dari berpikir kritis adalah interpretasi, analisis, evaluasi, menyimpulkan, penjelasan dan kepercayaan diri. Artinya bahwa dalam mengembangkan kemampuan matematika terkhusus pengembangan kemampuan berpikir kritis, seorang peserta didik harus memiliki sikap yakin dan percaya akan kemampuan dirinya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa adalah self efficacy. Self efficacy merupakan keyakinan pada kemampuan diri sendiri dalam mengorganisir suatu tugas untuk mencapai hasil tertentu. Self efficacy yang kuat adalah kunci keberhasilan dalam proses belajar. Pendekatan pengajaran konvensional yang terlalu berfokus pada pencapaian hasil tanpa memperhatikan proses dan keyakinan diri siswa sering kali tidak memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengembangkan self efficacy. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih terintegrasi, yang tidak hanya fokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan self efficacy siswa, sehingga mereka dapat mengatasi tantangan yang lebih kompleks dalam pembelajaran matematika, khususnya pada topik induksi matematika. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan penelitian mengenai kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI SMA ditinjau dari self efficacy dalam menyelesaikan soal induksi matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI SMA ditinjau dari self efficacy dalam menyelesaikan soal induksi matematika. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek pada penelitian ini merupakan 6 siswa kelas XI MIPA 1 SMAK Santo Paulus Jember. Instrumen yang digunakan meliputi angket self efficacy, soal tes, dan pedoman wawancara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode angket, tes, dan wawancara. Data yang dianalisis adalah data hasil validasi instrumen, data hasil angket, data hasil tes, dan data hasil wawancara. Hasil perhitungan validasi oleh dua validator menunjukkan bahwa nilai ratarata total untuk seluruh aspek (𝑉𝑎) pada instrumen soal tes adalah 3,9 dimana nilai tersebut berada dalam rentang 3 ≤ 𝑉𝑎 < 4. Sementara itu, hasil validasi instrumen pedoman wawancara menunjukkan nilai rata-rata 4. Sehingga, instrumen tersebut dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk penelitian. Instrumen yang pertama kali diberikan yaitu angket self efficacy untuk mengelompokkan siswa ke dalam tiga kategori self efficacy, yakni tinggi, sedang, dan rendah. Selanjutnya siswa mengerjakan soal tes kemampuan berpikir kritis, kemudian dipilih 2 siswa dari masing-masing kategori self efficacy untuk diwawancarai. Berdasarkan analisis hasil tes dan wawancara terhadap subjek self efficacy tinggi menunjukkan bahwa terhadap subjek self efficacy tinggi dalam menyelesaikan soal induksi matematika mampu memenuhi keseluruhan indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi dengan baik. Subjek mampu mengerjakan pembuktian soal dengan tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk mencari penyelesaiannya. Di sisi lain siswa dengan self efficacy sedang dalam menyelesaikan soal induksi matematika hanya mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis interpretasi dan analisis. Akan tetapi, siswa lain pada kategori ini hanya mampu memenuhi indikator berpikir kritis interpretasi. Hal ini dikarenakan subjek kesulitan dalam memahami soal yang diberikan dapat mempengaruhi hasil penyelesaiannya. Sementara itu, siswa dengan self efficacy rendah dalam menyelesaikan soal induksi matematika tidak mampu satu pun memenuhi indikator berpikir kritis. Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan siswa kurang mampu memahami soal yang diberikan dan merasa kesulitan mengerjakan soal tersebut. Siswa merasa tidak yakin atas kemampuannya untuk menyelesaikan soal yang dihadapi.

Description

Reuploud file repositori 23 Feb 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By