Analisis Kadar Neurotrophin Receptor (p75NTR) Serum Paska Latihan Fisik di bawah Sinar UV-B dan Diet Minyak Ikan pada Tikus Wistar Jantan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Kemampuan kognitif yang menurun pada lanjut usia merupakan masalah
yang mempengaruhi keberhasilan perawatan kesehatan gigi dan mulut. Prevalensi
penurunan kemampuan kognitif pada lansia usia 65 tahun ke atas di Indonesia
mencapai lebih dari 20% dari total populasi lansia. Kemampuan kognitif
dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya p75NTR sebagai bagian dari
molekul neurotrophin. Reseptor p75NTR memiliki peran krusial dalam mengatur
kematian sel terprogram (apoptosis) di sistem saraf. Peningkatan ekspresi p75NTR
seiring bertambahnya usia dapat mengakibatkan gangguan kognitif karena
menghambat aktivasi jalur pensinyalan untuk pertumbuhan neuron baru. Penelitian
ini bertujuan untuk mengkaji peran latihan fisik dengan dan tanpa sinar UV-B yang
dikombinasi dengan minyak ikan terhadap penurunan kadar p75NTR serum.
Penelitian ini menggunakan 28 ekor tikus Wistar Jantan. Sampel dibagi dalam
tiga kelompok: kelompok kontrol (K), ORUVOM (latihan fisik dengan intensitas
sedang di bawah sinar UV-B dan diet minyak ikan), dan OROM (latihan fisik
dengan intensitas sedang dan diet minyak ikan). Pengamatan dilakukan pada hari
ke-0, 14, dan 28.
Perlakuan latihan fisik dilakukan menggunakan Rat treadmill selama 30
menit dalam tiga sesi: (1) pemanasan selama 5 menit dengan kecepatan 4 m/menit,
(2) latihan selama 20 menit dengan kecepatan 16 m/menit dengan jeda istirahat 1
menit setiap 10 menit untuk mereduksi stress, dan (3) pendinginan selama 5 menit
dengan kecepatan 4 m/menit. Kelompok ORUVOM melakukan latihan di bawah
paparan lampu sinar UV-B dengan indeks 5.0 dan 26W. Pemberian minyak ikan
lemuru dilakukan sebanyak 1,5 ml/hari secara peroral menggunakan sonde
lambung. Pengambilan darah dilakukan secara intrakardial sebanyak 5cc kemudiandilanjutkan dengan pembuatan serum melalui sentrifugasi dengan kecepatan 3000
rpm selama 20 menit. Pengukuran kadar p75NTR menggunakan metode ELISA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari ke-0, ketiga kelompok
memiliki kadar p75NTR serum yang sama (265,166 ρg/ml). Kelompok ORUVOM
menunjukkan penurunan kadar p75NTR serum paling signifikan pada hari ke-14
(163,364 ρg/ml) tetapi kembali meningkat pada hari ke-28 (225,182 ρg/ml).
Kelompok OROM menunjukkan penurunan konsisten dari hari ke-14 (211,310
ρg/ml) hingga hari ke-28 (197,743.750 ρg/ml).
Penurunan kadar p75NTR ini dimungkinkan terjadi akibat efek sinergi dari
ketiga perlakuan yaitu (1) latihan fisik intensitas sedang merangsang otot rangka
melepaskan hormon IRISIN yang meningkatkan sintesis BDNF di hippocampus,
(2) paparan sinar UV-B meningkatkan produksi vitamin D3 aktif yang menekan
jalur pro-apoptosis (JNK dan caspase 3), dan (3) omega-3 dari minyak ikan
menurunkan peradangan pada sistem syaraf dan menekan jalur proBDNF yang
berikatan dengan p75NTR. Peningkatan kadar p75NTR pada kelompok ORUVOM
dimungkinkan akibat akumulasi Reactive Oxygen Species (ROS) dari paparan UVB
yang
terus-menerus.
Kombinasi perlakuan yang melibatkan paparan sinar UV-B (ORUVOM)
mampu menurunkan kadar p75NTR secara cepat dalam jangka pendek tetapi
meningkat kembali pada jangka yang lebih panjang, sementara kombinasi latihan
fisik dan diet minyak ikan tanpa paparan sinar UV-B (OROM) cenderung lebih
efektif untuk menurunkan kadar p75NTR dan menjaga stabilitas penurunan hingga
yang diharapkan lebih mampu memberikan efek proteksi jangka panjang pada
sistem saraf sehingga kemampuan kognitif dapat tetap dipertahankan.
Limitasi penelitian ini adalah ketidakmampuan untuk mengikuti ritme
sirkadian alami tikus sebagai hewan nokturnal. Untuk penelitian selanjutnya,
disarankan melakukan perlakuan pada sore atau malam hari saat tikus berada dalam
fase aktifnya untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dalam pengukuran p75NTR.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 12
