Flexing Sebagai Artikulasi Identitas Mahasiswa Generasi Z DI Instagram
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Abstract
Flexing adalah wujud penggambaran perilaku individu yang berusaha
memperlihatkan kemewahan, kekayaan, dan status sosial pada orang lain melalui
media sosial. Sederhananya flexing adalah pamer di media sosial. Flexing sering
dilakukan oleh Generasi Z di Instagram sebagai produk dari kebiasaan sehari-hari.
Hal ini dikarenakan Generasi Z lahir dan besar bersamaan dengan perkembangan
teknologi dan media sosial. Penelitian mengenai flexing pernah diteliti sebelumnya,
namun masih terbatas dalam substansinya. Pada penelitian sebelumnya, flexing
dipandang sebagai tindakan negatif karena individu memiliki kecenderungan untuk
diakui oleh publik dengan cara pamer di media sosial. Namun, pada penelitian ini
flexing dipandang sebagai rekognisi yang perlu ditampilkan oleh Generasi Z untuk
mendapatkan sekaligus menegaskan identitas sosial di media. Melalui flexing
Generasi Z dapat menunjukkan aktivitas yang dilakukan setiap harinya di media,
karena media sosial merupakan medium yang bersifat cair untuk membagikan
konten. Penelitian ini menggunakan teori simulasi dan hiperrealitas oleh Jean
Baudrillard. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis
flexing sebagai fenomena di media sosial yang dapat membentuk artikulasi identitas
bagi mahasiswa Generasi Z di Instagram.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif
menggunakan pendekatan etnografi virtual oleh Christine Hine. Dalam pendekatan
ini peneliti dan informan harus berada pada posisi yang simetris, di mana mereka
harus berada dalam pola komunikasi yang sama terkait topik yang diteliti, mengenal
dan memperkenalkan diri, dan konteks data yang dihasilkan bisa dipahami satu
sama lain. Sumber data yang digunakan oleh peneliti yaitu data primer dan dan data
sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahap yaitu observasi non
partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Jumlah informan dalam penelitian ini
yaitu sebanyak delapan informan. Adapun kriteria nya ada tiga. Pertama, Generasi
Z. Kedua, berusia 18-25 tahun. Ketiga, memiliki akun media sosial Instagram.
Keempat, informan sering melakukan flexing di Instagram. Teknik keabsahan data
dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.nalisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Hasil penelitian dari penelitian ini yaitu flexing yang sering dilakukan
Generasi Z terbagi menjadi tiga jenis, yaitu flexing gaya hidup, flexing prestasi, dan
flexing hobi baru. Pada penelitian ini flexing tidak lagi dipandang sebagai hal yang
negatif. Namun, flexing dipandang sebagai sesuatu yang harus ditampilkan sebagai
wujud dari budaya populer. Budaya populer yang dimaksud adalah media sosial.
Mereka melakukan flexing untuk menciptakan identitas sekaligus menegaskan
identitas. Mereka bisa dengan mudah menciptakan identitas diri sesuai
keinginannya, sehingga tidak ayal jika lahir fenomena identitas terbelah dan
identitas ganda. Instagram yang serba sempurna dan tanpa cela ini pada gilirannya
telah menampakkan tampilan fisik lebih penting daripada aslinya. Kondisi ini
membuat Instagram menjadi pendorong bagi Generasi Z untuk menampilkan
kesempurnaan pula. Tidak ayal jika kondisi ini membuat Generasi Z sering kali
menampilkan fragmentasi tubuh yang palsu.
Description
Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren
