Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Stroke Hemoragik di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Farmasi

Abstract

Penyakit stroke merupakan suatu gangguan fungsi pada susunan sistem saraf akibat defisit aliran darah pada pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan terganggunya suplai oksigen ke otak. Stroke hemoragik biasanya terjadi akibat pecahnya pembuluh darah serebrovaskular yang terbagi menjadi dua jenis yaitu stroke intracerebral hemorrhage (ICH) dan stroke subarachnoid hemorrhage (SAH). Pasien stroke hemoragik membutuhkan terapi jangka panjang sehingga pemilihan dan penggunaan obat stroke hemoragik di rumah sakit harus dilakukan secara rasional dengan ESO minimal. Penggunaan obat yang tidak rasional akan menyebabkan permasalahan terkait obat dan mengganggu outcome terapi yang diinginkan pada pasien. Diperlukan evaluasi penggunaan obat untuk meningkatkan ketepatan penggunaan obat stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien, profil pengobatan dan gambaran permasalahan terkait obat pada pasien stroke hemoragik di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember. Metode penelitian ini melibatkan pengumpulan data dan dianalisis secara deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2024, dengan mengambil data rekam medik pasien dengan diagnosis primer stroke hemoragik dan memenuhi kriteria inklusi berjumlah 87 pasien. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa profil pasien di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember didominasi oleh jenis kelamin perempuan (55,17%), umumnya pada usia dewasa pada rentang 19–59 tahun (70,11%), dengan penjamin J-PK (40,23%) dan kebanyakan memiliki komorbid (81,61%). Pada profil penggunaan obat pasien stroke hemoragik seperti terapi antihipertensi tunggal golongan CCB dan kombinasi CCB-ARB. Obat yang paling banyak di gunakan yaitu amlodipin tablet 10 mg (94,25%), spironolakton tablet 100 mg (18,39%) dan parasetamol tablet 500 mg (20,69%). Kesesuaian terapi pasien dibandingkan dengan guideline JNC 8 tahun 2014 dan PNPK tahun 2019 ix mayoritas telah sesuai (100%). Gambaran permasalahan terkait obat yang ditemukan yaitu berupa potensi interaksi obat paling banyak yaitu diuretik hemat kalium dan golongan ARB dalam kategori mayor, dosis terlalu rendah yaitu pada gabapentin 100 mg dengan aturan pakai 1x1 dan tidak ditemukan permasalahan terkait dosis terlalu tinggi. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah perlunya intervensi lebih lanjut untuk pemantauan dan evaluasi pada pemberian obat serta progres penyakit pada saat pasien kontrol di instalasi rawat jalan, khususnya pada obat yang berpotensi memiliki interaksi di tubuh pasien.

Description

Reupload file repository 9 Februari 2026_Ratna

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By