Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami: Kajian Strukturalisme Dinamik
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Kajian ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan dalam praktik kehidupan dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang mendorong terciptanya sebuah karya sastra. Novel Bilangan Fu ialah novel yang mengungkapkan masalah manusia, kemanusiaan dan semesta. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan keterkaitan antarunsur struktural yang mencakup tema, penokohan dan perwatakan, latar, dan konflik, serta memberikan deskripsi mendalam mengenai analisis strukturalisme dinamik dengan empat pendekatan Abrams yaitu pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Objek material berupa novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Objek formal merujuk pada teori strukturalisme dinamik berdasarkan empat pendekatan Abrams. Satuan analisis pada penelitian ini berupa kalimat, paragraf, atau wacana yang terkait dengan konsep empat pendekatan Abrams. Hasil yang diperoleh menunjukkan analisis terhadap empat pendekatan Abrams. Pertama, pendekatan objektif memperlihatkan analisis terhadap tema mayor merujuk pada benturan tradisi Jawa dengan kehiduoan modern, sedangkan tema minornya yakni, konservasi Sewugunung oleh oknum tidak bertanggungjawab, ketegangan pola pikir tradisional dan modern, serta pertemuan yang menumbuhkan kisah cinta segitiga. Penokohan dan perwatakan terdiri dari tokoh utama yakni Yuda menunjukkan watak bulat. Tokoh bawahan Parang Jati dan Marja menunjukkan watak datar, sedangkan Kupukupu menunjukkan watak bulat. Latar mencakup latar tempat yakni di Bandung dan Sewugunung. Latar waktu terjadi di masa akhir Orde Baru dan Reformasi. Latar sosial menunjukkan tradisi masyarakat Jawa Tengah dan kondisi sosial masyarakat kelas bawah. Adapun konflik dibagi dua yakni konflik eksternal, manusia dengan manusia terjadi pada Yuda dan Fulan. Konflik manusia dengan masyarakat terjadi pada Kupukupu viii dengan masyarakat Sewugunung. Konflik manusia dengan alam terjadi pada sebagian masyarakat yang mencermari alam. Konflik internal, ide dengan ide terjadi pada Yuda, Pete, dan Parang Jati. Konflik seseorang dengan kata hatinya terjadi pada Yuda yang sedih atas kepergian Parang Jati. Unsur-unsur instrinsik menunjukkan bahwa antara satu unsur dengan unsur lain mempunyai korelasi yang saling berhubungan. Kedua adalah pendekatan ekspresif. Fokus utama dalam analisis pendekatan ekspresif berdasarkan pada ide atau gagasan Ayu Utami untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Ayu Utami menyampaikan ekspresinya yang meliputi, ekspresi kultural yang tumbuh dari komunitas merujuk pada lingkungan sosial yang membentuk ideologi Ayu Utami. Nalar dan sensitivitas sosial, merujuk pada kepekaan Ayu Utami terhadap situasi sosial masyarakat. Resistensi identitas, merujuk pada upaya masyarakat tradisional dalam mempertahankan kebudayaan di tengah kehidupan modern. Refleksi terhadap zaman, merujuk pada memahami dan mengevaluasi perkembangan zaman melalui sisi sosial, ekonomi dan politik. Ketiga adalah pendekatan mimetik. Fokus utama dalam analisis pendekatan mimetik berdasarkan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak Orde Baru hingga Reformasi. Peristiwa ini bermula dari rezim militer, pemerintah menyatakan aparat militer mempunyai peran dalam mengendalikan sosial, ekonomi, dan politik. Peristiwa pembunuhan dukun santet marak terjadi pada tahun 1998-1999. Peristiwa upacara adat/ ruwatan bumi dalam praktik kehidupan masyarakat Jawa sebagai bentuk upaya membersihkan lingkungan dari marabahaya. Ketiga peristiwa ini digambarkan dalam novel dan secara nyata terjadi di lingkungan masyarakat. Keempat adalah pendekatan pragmatik. Peneliti sebagai pembaca memperoleh makna tersirat dalam novel Bilangan Fu. Pertama, mengungkapkan kritik terhadap modernitas, monoteisme, militerisme. Kedua, masyarakat tradisional percaya terhadap keberadaan Nyi Roro Kidul. Ketiga, spiritualisme kritis dianggap mampu menyikapi keberagaman agama. Adapun publik sebagai pembaca dibagi menjadi tiga aspek. Pertama, relasi alam dan perempuan. Kedua, representasi tokoh-tokoh historis Babad Tanah Jawi digambarkan dalam novel. Ketiga, dinamika sosial masyarakat Sewugunung.
Description
Reaploud Repository February 2026_Hasyim
