Hubungan antara Pengetahuan Gizi, Kepatuhan Konsumsi Multiple Micronutrient Supplement, dan Food Taboo dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Pademawu Kabupaten Pamekasan)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Anemia selama kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan ibu yang perlu mendapat perhatian. Kejadian anemia dapat berkaitan dengan pengetahuan gizi, kepatuhan konsumsi multiple micronutrient supplements (MMS), serta pantangan makanan (food taboo) yang dipengaruhi oleh faktor budaya. Pada tahun 2025, Puskesmas Pademawu melaporkan jumlah kasus anemia tertinggi di antara ibu hamil yang menjalani kunjungan antenatal pertama di Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi, kepatuhan konsumsi MMS, dan food taboo dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Pademawu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 80 ibu hamil yang menjalani kunjungan antenatal pertama pada periode Januari–Maret 2026, yang dipilih menggunakan teknik proportional quota sampling dari populasi sebanyak 199 ibu hamil. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan wawancara. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan variabel penelitian, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square atau Continuity Correction. Hasil analisis disajikan dalam bentuk rasio prevalensi (RP) dan interval kepercayaan (IK) 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55 responden (68,8%) mengalami anemia, dengan rerata kadar hemoglobin sebesar 10,55 g/dL dan rentang 8,2–13,7 g/dL. Sebanyak 38 responden (47,5%) memiliki pengetahuan gizi kurang, 52 responden (65,0%) memiliki tingkat kepatuhan konsumsi MMS rendah, dan 48 responden (60,0%) menerapkan pantangan makanan tertentu. Pengetahuan gizi kurang berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (RP = 3,158; IK 95%: 1,610–6,194; p < 0,001). Demikian pula, penerapan pantangan makanan berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (RP = 1,625; IK 95%: 1,120–2,358; p = 0,003). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kategori kepatuhan konsumsi MMS dan kejadian anemia, baik pada kategori kepatuhan rendah (p = 0,064) maupun sedang (p = 0,864), dengan kategori kepatuhan tinggi sebagai pembanding. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan gizi kurang dan penerapan pantangan makanan berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia pada responden, sedangkan kepatuhan konsumsi MMS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Oleh karena itu, edukasi gizi dan konseling mengenai pemilihan makanan yang mempertimbangkan nilai budaya perlu diperkuat, disertai dukungan berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi MMS.
Description
Finalisasi Maya_26 Oktober 2026
