Hubungan STV Triangle (Strategy, Tactic, Value) terhadap Keputusan Pembelian Keripik Kentang di CV Junior Farm

Abstract

Industri makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 39,10% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas dan 6,55% terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,47% pada 2023, sementara pengeluaran rumah tangga untuk makanan dan minuman jadi meningkat dari 31,19% menjadi 32% , mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah produk olahan siap saji. Provinsi Jawa Timur merupakan sentra kentang terbesar di Indonesia dengan kontribusi 23,76% dari produksi nasional atau 301.874 ton pada 2024, sementara Kabupaten Pasuruan sebagai wilayah penghasil utama menyumbang 143.182 ton atau sekitar 56,7% dari total produksi kentang Provinsi Jawa Timur. Potensi bahan baku ini mendorong berkembangnya agroindustri keripik kentang, salah satunya Kenteto milik CV Junior Farm yang berlokasi di kawasan wisata Gunung Bromo dengan kapasitas panen 40 hingga 50 ton setiap musim panen. Kunjungan wisatawan Bromo menunjukkan tren peningkatan dengan kenaikan sebesar 22,3% pada 2025. Peningkatan jumlah wisatawan belum diikuti dengan kinerja penjualan yang stabil karena pertumbuhan penjualan terus melambat dan mengalami penurunan sebesar 16,7% pada 2024. Fluktuasi ini menunjukkan peluang pasar wisatawan yang besar belum sepenuhnya terkonversi menjadi keputusan pembelian konsumen, sedangkan penelitian terdahulu mengenai STV Triangle umumnya hanya menganalisis satu atau beberapa elemen secara parsial, sehingga penelitian ini mengintegrasikan seluruh sembilan elemen Strategy, Tactic, dan Value Triangle pada objek yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu agroindustri keripik kentang di kawasan wisata Bromo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses keputusan pembelian konsumen Kenteto dan menganalisis hubungan seluruh elemen STV Triangle dengan keputusan pembelian keripik kentang di CV Junior Farm. Penelitian menggunakan metode survei dengan melibatkan 55 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan proses keputusan pembelian dan korelasi Rank Spearman untuk menganalisis hubungan STV Triangle dengan keputusan pembelian pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa proses keputusan pembelian konsumen Kenteto diawali dengan pengenalan kebutuhan berupa kebutuhan camilan dan oleh-oleh khas daerah. Konsumen kemudian mencari informasi melalui rekomendasi keluarga, teman, dan media sosial, serta mengevaluasi alternatif berdasarkan rasa, harga, dan kemasan. Pada tahap keputusan pembelian, konsumen memperoleh skor rata-rata sebesar 3,93 yang menunjukkan kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian produk Kenteto. Pada hasil tahap terakhir yakni tahap perilaku pascapembelian, konsumen merasa puas dan berniat membeli ulang dengan skor rata-rata tertinggi sebesar 4,16. Hasil analisis Korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa seluruh sembilan elemen STV Triangle memiliki hubungan positif dan signifikan dengan keputusan pembelian. Segmenting memiliki koefisien hubungan sebesar 0,648, targeting sebesar 0,623, positioning sebesar 0,557, selling sebesar 0,665, bauran pemasaran sebesar 0,691, diferensiasi produk sebesar 0,673, brand sebesar 0,609, process sebesar 0,385, dan service sebesar 0,655. Berdasarkan kriteria interpretasi koefisien korelasi, segmenting, targeting, selling, bauran pemasaran, diferensiasi produk, brand, dan service menunjukkan hubungan yang kuat, sedangkan positioning menunjukkan hubungan yang sedang. Process memperoleh koefisien hubungan terendah, tetapi tetap menunjukkan hubungan yang signifikan dengan keputusan pembelian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan STV Triangle yang semakin baik berkaitan dengan semakin tingginya keputusan pembelian konsumen keripik kentang Kenteto

Description

Finalisasi Maya_23 Oktober 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By