Analisis Perbandingan Tarif Biaya Hemodialisis pada Pasien JKN dengan Metode Activity Based Costing (ABC), Tarif Rumah Sakit, dan Tarif INA-CBGs di Rumah Sakit Kabupaten Lumajang

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

RSUD Dr. Haryoto dan RS Bhayangkara Lumajang adalah dua rumah sakit dengan status Badan Layanan Umum dan Badan Layanan Umum Daerah. Sehubungan dengan status BLU/BLUD tersebut, sesuai dengan Permendagri nomor 61 tahun 2007 dan Permenkes nomor 85 tahun 2015, maka tarif yang ditetapkan harus berdasarkan unit cost per unit pelayanan dan dengan memperhatikan kondisi regional. RSUD Dr. Haryoto belum menggunakan unit cost dalam perhitungan tarif pelayanannya, tetapi masih dihitung dengan cara konvensional yaitu dengan menghitung biaya operasional obat dan bahan habis pakai untuk kemudian dibandingkan dengan tarif rumah sakit sekitarnya. Pelayanan hemodialisa setiap tahunnya mengalami peningkatan, bahkan terdapat antrian pasien yang disebabkan belum tercukupinya jumlah mesin dengan jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan Hemodialisa. Dikeluarkannya Permenkes nomor 3 tahun 2023 membawa perubahan terhadap strategi pembiayaan pasien JKN. Jika sebelumnya perbandingan tarif Hemodialisa antara tarif rumah sakit dengan tarif INA CBGs ditemukan selisih positif, maka dengan terbitnya Permenkes ini rumah sakit akan mengalami selisih negatif. Tarif yang diklaimkan rumah sakit ke BPJS Kesehatan tidak sesuai dengan yang diharapkan karena nominal tarif yang didapat lebih kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tarif pelayanan hemodialisa berdasarkan perhitungan unit cost dengan metode Activity Based Costing (ABC) di rumah sakit Kabupaten Lumajang. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan desain studi kasus perbandingan antara tarif hemodialisa berdasarkan perhitungan unit cost menggunakan metode ABC dengan tarif BLU/BLUD dna tarif INA-CBGs. Unit analisis penelitian ini adalah unit hemodialisa di RSUD Dr. Haryoto dan RS Bhayangkara Lumajang. Variabel penelitian ini adalah tarif berdasarkan unit cost, konstanta, jasa pelayanan, tarif BLU/BLUD, selisih tarif, dan tarif klaim INA-CBGs. Responden dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Instrument pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit cost pelayanan Unit Hemodialisa dengan menggunakan metode Activity Based Costing di RSUD Dr. Haryoto untuk single use sebesar Rp. 706.840, dan yang reuse sebesar Rp. 613.708. Sedangkan unit cost di RS Bhayangkara untuk single use sebesar Rp. 818.606 dan untuk reuse sebesar Rp. 620.240. Penentuan tarif berdasarkan unit cost metode Activity Based Costing (ABC) di RSUD Dr. Haryoto sebesar Rp 953.045 untuk tarif hemodialisa single use, dan untuk tindakan hemodialisa reuse sebesar Rp 857.119. Untuk RS Bhayangkara tarif single use sebesar Rp. 1.038.336, dan untuk reuse sebesar Rp. 830.052. Tarif tindakan hemodialisa berdasarkan unit cost lebih tinggi dibandingkan tarif BLUD rumah sakit yang saat ini berlaku. Selisih tarif di RSUD Dr. Haryoto sebesar Rp. 53.045 untuk tindakan hemodialisa single use dan sebesar Rp. 77.119 untuk tindakan hemodialisa reuse. Sedangkan untuk RS Bhayangkara tidak didapatkan selisih tarif karena tarif RS sudah dihitung berdasarkan unit cos. Tarif tindakan hemodialisa berdasarkan unit cost lebih tinggi dibandingkan tarif INA-CBGs. Selisih tarif di RSUD dr. Haryoto sebesar Rp. 56.345 untuk tindakan hemodialisa single use dan sebesar Rp. 94.924 untuk tindakan hemodialisa reuse. RS Bhayangkara juga mengalami kondisi yang sama dengan selisih single use sebesar Rp. 193.536 dan yang reuse sebesar Rp. 111.972

Description

Reupload file repository 19 Oktober 2026_Ratna Finalisasi Maya_19 Oktober 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By