Strategi Promosi Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Industri perfilman Indonesia telah mengalami pasang surut sejak awal kemunculan industri film yaitu 1900-an. Keberadaan film impor di Indonesia, mengakibatkan terjadinya persaingan antara film lokal dengan film luar. Strategi promosi harus direncanakan dengan baik agar film lokal dapat menarik minat masyarakat. Rekor baru dalam perfilman Indonesia diraih oleh film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dengan perolehan jumlah penonton terbanyak selama 2007-2017 yaitu 6.858.616. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ide kreatif dalam strategi memperoleh penonton. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam melaksanakan strategi promosi film, sehingga industri film di Indonesia semakin berkembang dan lebih berwarna. Penelitian dilaksanakan melalui wawancara kepada tim promosi Falcon Pictures, observasi pemberitaan tentang film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 di media massa, dan studi pustaka. Data penelitian yang didapatkan disesuaikan dengan teori periklanan, hubungan masyarakat, dan social media marketing sehingga diketahui efektivitas strategi yang dilakukan terhadap perolehan penonton. Kegiatan promosi Falcon Pictures diawali dengan segmentasi, penetapan tujuan, penentuan angle, penjadwalan dan forecasting, serta pemilihan media. Segmentasi film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 terdiri dari khalayak usia 13 sampai 45 tahun dan kegiatan promosinya dilakukan di daerah yang memiliki bioskop besar seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinemaxx. Penetapan tujuan yang dilakukan oleh tim promosi adalah word of mouth. Angle promosi yang dilakukan terdiri dari tiga topik yaitu pemeran film, aktivitas pemain, dan pengadeganan. Penjadwalan promosi dilaksanakan mulai dari h-3 bulan, h-2 bulan, h-1 bulan, h-2 minggu, dan h+1 minggu. Falcon Pictures memanfaatkan semua media massa untuk kegiatan promosi yang terdiri dari radio, televisi, media cetak dan online, digital, dan event. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan strategi penyajian yang terdiri dari purple cow (sapi ungu), brand positioning (penempatan merek), dan kuis. Konsep purple cow yang dilakukan tim promosi adalah membuat materi unik melalui meme, bernyanyi bersama, dan aksi minum kopi di mini market. Brand positioning dilaksanakan melalui ads placement pada media yang bersifat unik, superioritas, dan tidak mudah ditiru seperti di commuterline, gelas minuman, dan Gedung Veteran. Nonton bareng dengan Gubernur dan Walikota juga dilakukan dalam rangka brand positioning. Pelaksanaan kuis di media sosial bertujuan untuk mendapatkan engagement atau mengundang khalayak turut berpartisipasi dalam kegiatan promosi, sehingga tercapai tujuan promosi yaitu word of mouth. Tahap terakhir yaitu media monitoring dilakukan dengan meninjau publikasi khalayak di media sosial terkait film yang dipromosikan guna mengetahui berjalan atau tidaknya promosi yang telah dilaksanakan. Kegiatan sosial dalam bentuk donasi kepada Yayasan Pita Kuning dan penyuluhan kepada siswa QLC (Quran Learning Center), dilakukan untuk menjalin hubungan dengan khalayak, sehingga memperoleh kepercayaan serta citra baik. Beberapa strategi yang dilakukan tim promosi Falcon Pictures sesuai dengan teori periklanan yaitu membentuk kesadaran, menciptakan perasaan, dan mendorong khalayak untuk bertindak. Hubungan masyarakat dilakukan untuk menciptakan berita yang mendukung perusahaan. Kuis di media sosial merupakan langkah dalam penciptaan arus word of mouth. Promosi yang dilaksanakan secara strategis, berbanding lurus dengan jumlah penonton yang didapatkan. Hasil dari promosi yang telah dilakukan, Falcon Pictures berhasil meraih 6.858.616 penonton pada film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.

Description

:: Finalisasi file repositori 29 September 2026_Kurnadi

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By