Karakteristik Fungsional Belalang Kayu (Valanga Nigricornis) dan Belalang Sawah (Oxya chinensis) dengan Perbedaan Metode Pengering Microwave dan Hot Air Drying
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Perkembangan ekonomi di kawasan Asia Tenggara diikuti oleh perubahan pola konsumsi, khususnya peralihan sumber protein dari nabati ke hewani. Berdasarkan analisis neraca pangan yang dilakukan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada tahun 2019, konsumsi protein hewani dinilai penting untuk memastikan kecukupan dan kualitas asupan protein terutama di negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah hingga menengah (Biró et al., 2020). Indonesia masih menghadapi kesenjangan konsumsi protein hewani yaitu hanya mencapai 8% dari total konsumsi pangan yang berisiko menimbulkan masalah kesehatan seperti stunting, anemia, dan wasting, sehingga kecukupan pangan harus disertai kualitas gizi yang baik (Briend et al., 2015). Sumber protein hewani seperti daging sapi, ayam, dan ikan seringkali tidak berkelanjutan karena tingginya biaya produksi, kebutuhan lahan yang luas, dan dampak lingkungan yang signifikan, seperti emisi gas rumah kaca, deforestasi, serta pencemaran air (Wahyuni & Santoso, 2023). Belalang dapat menjadi alternatif bahan pangan berprotein tinggi dan sumber protein hewani yang berkelanjutan, bergizi tinggi, dan ramah lingkungan, serta potensial dikembangkan di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati belalang (Kuntadi et al., 2018). Belalang merupakan serangga yang memiliki ciri khas sayap lurus dan termasuk dalam ordo Orthoptera (Purnama et al., 2017). Belalang memiliki manfaat bagi manusia, terutama sebagai sumber pangan yang kaya akan protein dan lemak. Belalang berpotensi menjadi alternatif bahan pangan yang mudah dibudidayakan secara efektif dan efisien karena siklus metamorfosisnya yang cepat memungkinkan produksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat dengan biaya lebih rendah dibandingkan dengan budidaya ternak konvensional (Paulin & Purwanto, 2020). Namun, belalang masih belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan meskipun mengandung protein yang tinggi sebesar 50–70% dari berat kering serta kaya akan asam amino esensial, vitamin, dan mineral (OrdoñezAraque et al., 2022). Beberapa jenis belalang yang aman dan dapat dikonsumsi adalah belalang kayu dan belalang sawah. Belalang kayu (Valanga nigricornis) merupakan jenis belalang yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara dan telah banyak dikaji sebagai sumber protein yang dapat dikonsumsi dengan potensi nilai gizi yang tinggi (Kristanti et al., 2024). Belalang sawah (Oxya chinensis) merupakan serangga yang termasuk dalam ordo Orthoptera dan famili Acrididae yang diketahui memiliki kandungan protein cukup tinggi sebesar 74,28% sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif (Sánchez-Velázquez et al., 2025).
