Penilaian Dampak Lingkungan Daur Hidup Kopi Arabika (Coffea Arabica) di KSU Buah “Ketakasi” Sidomulyo Dengan Metode LCA (Life Cycle Assessment)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Teknologi Pertanian
Abstract
Desa Sidomulyo, yang dikenal sebagai sentra kopi robusta (Coffea
canephora), mulai mengembangkan kopi arabika (Coffea arabica) pada tahun 2018
di bawah naungan KSU Buah “Ketakasi”. Namun, seiring berkembangnya kopi di
Industri pengolahan kopi KSU Buah “Ketakasi” juga tidak lepas dari dampak
lingkungan yang dapat ditimbulkan dari setiap aktivitasnya. Kegiatan operasional
di KSU Buah “Ketakasi” pada seluruh siklus hidup kopi mulai dari penggunaan
pupuk sintetis, pemakaian bahan bakar fosil, hingga limbah produksi dapat
berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan, terutama emisi gas
rumah kaca (GRK). Emisi ini menjadi perhatian serius mengingat laporan khusus
IPCC (2018) menyatakan kenaikan suhu global sekitar 1 oC, dengan perkiraan
kenaikan mencapai 1,5 oC pada 2030-2052 akibat dari aktivitas manusia. Untuk
menganalisis dan memitigasi dampak tersebut, dapat menggunakan metode Life
Cycle Assessment (LCA). LCA merupakan metode yang dapat digunakan untuk
menilai dampak dari siklus hidup suatu produk, mulai dari ekstraksi bahan baku
hingga pembuangan akhir (cradle to grave) (Harimurti et al., 2019). LCA dapat
digunakan untuk membantu memilih proses dan teknologi yang tepat dan ramah
lingkungan, sehingga bisa digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam
pengambilan keputusan yang tepat. Oleh karena itu, metode ini dapat diterapkan
untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari aktivitas pengolahan kopi arabika di
Industri pengolahan kopi KSU Buah “Ketakasi” di Desa Sidomulyo.
Jumlah emisi GRK dari tahapan daur hidup kopi arabika di Desa Sidomulyo
dalam satu kali produksi yaitu untuk emisi CO2 sebesar 5.5512 kg CO2 eq, CH4
7,0794 kg CO2 eq, N2O 20,7116 kg CO2 eq dengan total emisi GRK sebesar
33,3422 kg CO2 eq. Penyumbang emisi terbesar dihasilkan dari proses perawatan
tanaman yaitu sebesar 20,952 kg CO2 eq. Sumber emisi ini didapatkan dari jumlah
emisi N2O yang tinggi yaitu sebesar 20,612 kg CO2 eq. Hal ini dapat terjadi karena
pada proses pemupukan terdapat kandungan nitrogen yang ada dalam pupuk
Phonska yang dapat menimbulkan emisi GRK.
Beberapa alternatif perbaikan yang dapat dilakukan diantaranya yaitu
pengolahan limbah kulit buah menjadi pupuk organik kompos dan pembuatan POC
dari limbah cair pencucian kopi arabika. Berdasarkan perhitungan analisis emisi
setelah perbaikan, emisi GRK pada daur hidup kopi arabika dapat berkurang
sebesar 8,6037 kg CO2 eq atau 25,80% apabila dapat diterapkan dengan baik.
Pemberian alternatif perbaikan melalui pertimbangan proses produksi dan
pengaplikasian pupuk organik dalam perkebunan, di mana pada iklim basah lahan
arabika pupuk organik memiliki faktor emisi lebih rendah (0,6%) dibandingkan
dengan pupuk sintetis (1,6%)
Description
Dosen Pembimbing Utama ; Dr. Elida Novita, S.TP., M.T., IPM.
