Pengaruh Derajat Keparahan PPOK Berdasarkan Klasifikasi GOLD terhadap IMT di RSD dr. Soebandi

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit respirasi kronis yang tidak hanya menyebabkan gangguan fungsi paru, tetapi juga dapat memengaruhi status gizi pasien. Peningkatan kerja pernapasan, inflamasi sistemik, serta gangguan keseimbangan energi pada PPOK dapat berkontribusi terhadap penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara derajat keparahan PPOK dengan IMT serta mengetahui hubungan tersebut berdasarkan status komorbiditas pada pasien PPOK di RSD dr. Soebandi Jember. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 31 pasien PPOK yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di poliklinik paru RSD dr. Soebandi Jember. Derajat keparahan PPOK dinilai menggunakan COPD Assessment Test (CAT), sedangkan IMT diperoleh dari pengukuran berat badan dan tinggi badan. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Analisis juga dilakukan secara terstratifikasi berdasarkan status komorbiditas. Hasil: Sebagian besar responden merupakan laki-laki (96,8%) dengan rerata usia 64,2 ± 9,9 tahun. Sebanyak 96,8% responden memiliki riwayat merokok dan 58,1% memiliki IMT dalam kategori underweight. Rerata skor CAT adalah 24,2 ± 5,8 dan seluruh responden berada pada kelompok B atau E. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara skor CAT dan IMT pada seluruh responden (rₛ=-0,538; p=0,002) dengan kekuatan korelasi sedang. Pada kelompok dengan komorbiditas juga ditemukan hubungan negatif yang signifikan (rₛ=-0,536; p=0,039), sedangkan pada kelompok tanpa komorbiditas hubungan tidak signifikan (rₛ=-0,273; p=0,307). Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara derajat keparahan PPOK berdasarkan skor CAT dengan IMT pada pasien PPOK di RSD dr. Soebandi Jember. Hubungan tersebut ditemukan pada pasien dengan komorbiditas, tetapi tidak ditemukan pada pasien tanpa komorbiditas. Hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan status gizi dalam penatalaksanaan pasien PPOK, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta.

Description

Finalisasi Repository Hasyim September 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By