Evaluasi Karakter Agronomi Galur Padi Putih Aromatik AA22 dan AA51 pada Populasi BC3F3 Hasil Persilangan INPARI 32 dan Merah Wangi
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Tanaman padi sebagai komoditas pangan utama sebagian besar penduduk Indonesia. Produksi beras meningkat seiring meningkatnya konsumsi beras. Aroma beras menjadi salah satu penentu dan pemikat kosumen. Aroma ini berasal dari senyawa 2-asetil-1-pirolin (2AP), yang terbentuk akibat mutasi pada gen BADH2. Varietas padi aromatik lokal memiliki produktivitas rendah, tinggi tanaman relatif besar, serta umur tanaman yang panjang. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyilangkan varietas Inpari 32 dengan hasil tinggi dengan Merah Wangi dengan sifat aromatik yang khas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi karakter agronomi galur padi putih aromatik AA22 dan AA51 generasi BC3F3. Penelitian dilaksanakan pada Agustus hingga Desember 2025 di lahan percobaan dan laboratorium Universitas Jember. Metode penelitian meliputi analisis keberadaan gen dengan marka Bradbury serta evaluasi agronomi berdasarkan variable parameter. Analisis molekuler menghasilkan 5 sampel masing masing galur menunjukkan pita DNA 257 bp dan 355 bp. Galur AA22 dan AA51 terdeteksi membawa gen aromatik dan sejajar dengan varietas Merah Wangi. Evaluasi agronomi pada galur AA22 dan AA51 menunjukkan keragaman sempit pada parameter tinggi tanaman dan panjang malai. Sebaliknya, parameter lain seperti jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, dan persentase gabah hampa memiliki keragaman yang luas. Sementara itu, jumlah gabah per malai pada galur AA51 menunjukkan keragaman yang sempit. Kualitas gabah berdasarkan bobot 1000 butir menunjukkan gabah memiliki kualitas yang baik dengan keragaman yang sempit baik gabah tetua dan galur AA22 dan AA51. Bobot 1000 butir galur AA22 dan AA51 lebih tinggi dibandigkan dengan kedua tetuanya. Berdasarkan konversi bobot ke ton per hektar, galur AA22 dan AA51 menunjukkan galur yang memiliki potensi daya hasil tinggi. hasil tersebut dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta distribusi fotosintat yang berjalan dengan baik. Namun demikian, penelitian ini masih memerlukan penelitian lanjutan melalui proses pemuliaan tanaman dengan melakukan seleksi ulang pada individu dengan keseragaman tinggi, kemudian dilanjutkan dengan penyerbukan sendiri (selfing) untuk meningkatkan tingkat keseragaman genetik dengan tetap mempertahankan sifat yang diinginkan dari sifat tetua Inpari 32. Proses ini perlu dilanjutkan dengan pengujian pada berbagai lingkungan, pengujian mutu beras, serta konfirmasi aleltarget dan proporsi pemulihan genom tetua berulang untuk memastikan kestabilan genetik pada generasi selanjutnya.
Description
Finalisasi 27 Agustus 2026_Yudi
