Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) Remaja Putri di Wilayah Kerja Puskesmas Sabrang Kabupaten Jember
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2021 sebanyak 29,9% remaja putri usia 15–19 tahun di dunia mengalami anemia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri usia 15–24 tahun sebesar 36,3%, sedangkan hasil skrining di Provinsi Jawa Timur menunjukkan sebanyak 28,8% remaja putri mengalami anemia. Angka tersebut masih melebihi batas ≥20% menurut kriteria WHO sehingga anemia masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD masih menjadi tantangan sehingga tujuan program belum tercapai secara optimal. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan konsumsi TTD adalah komponen Health Belief Model (HBM), yaitu perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan cues to action. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan komponen Health Belief Model dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Sabrang Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan crosssectional yang dilaksanakan pada bulan Mei–Juni 2026 di wilayah kerja Puskesmas Sabrang Kabupaten Jember. Populasi penelitian berjumlah 3.972 remaja putri usia 12–18 tahun yang bersekolah di SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Besar sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow sehingga diperoleh 118 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel dependen penelitian adalah kepatuhan konsumsi TTD, sedangkan variabel independen meliputi perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan cues vii to action. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas isi (Content Validity Index) dan uji reliabilitas (Cronbach's Alpha). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Fisher's Exact dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kepatuhan konsumsi TTD dalam kategori rendah. Berdasarkan komponen HBM, sebagian besar responden memiliki perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers dalam kategori rendah, sedangkan cues to action sebagian besar berada pada kategori tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mayoritas remaja putri belum memiliki keyakinan yang kuat mengenai kerentanan terhadap anemia, tingkat keparahan anemia, manfaat konsumsi TTD, maupun hambatan dalam mengonsumsi TTD, meskipun telah memperoleh berbagai bentuk dorongan dari lingkungan sekitar. Analisis bivariat menunjukkan bahwa perceived susceptibility (p=0,040), perceived benefits (p=0,007), dan perceived barriers (p=0,030) berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD. Sebaliknya, perceived severity (p=0,371) dan cues to action (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak seluruh komponen Health Belief Model berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dalam memperkuat program pemberian TTD melalui pengembangan media promosi kesehatan yang lebih menarik, inovatif, dan sesuai dengan karakteristik remaja putri sehingga kepatuhan konsumsi TTD sebagai upaya pencegahan anemia dapat meningkat.
Description
Validasi dan Finalisasi Ratna 26 Agustus 2026
