Hubungan Stigma Diri Dengan Harga Diri Pasien Tuberkulosis DI Puskesmas Bangsalsari

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dan disebabkan oleh bakteri *Mycobacterium tuberculosis*. Menurut *Global Tuberculosis Report* 2024, tingkat kejadian TB di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 388 per 100.000 penduduk. Di Provinsi Jawa Timur, tercatat sekitar 89.000 kasus TB pada tahun 2024, dengan Kabupaten Jember menempati peringkat ketiga melalui jumlah sekitar 5.600 kasus. TB adalah penyakit yang sangat lekat dengan stigma, di mana pasien sering kali menerima perlakuan negatif dari lingkungan sosial mereka. Tingkat stigma diri yang tinggi dapat menyebabkan penurunan harga diri pasien. Rendahnya harga diri memengaruhi motivasi, kepatuhan pengobatan, dan kualitas hidup pasien TB, yang pada akhirnya meningkatkan risiko putus pengobatan (*loss to follow-up*). Studi pendahuluan menunjukkan bahwa 60% pasien TB merasa malu, menarik diri dari interaksi sosial, dan memiliki persepsi diri negatif setelah didiagnosis TB, yang mengindikasikan adanya stigma diri. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stigma diri dan harga diri pada pasien tuberkulosis di Puskesmas Bangsalsari. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan intervensi psikososial untuk meningkatkan harga diri dan keberhasilan pengobatan pasien TB. Penelitian ini merupakan studi analitik kuantitatif dengan desain *cross-sectional* yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2026 di Puskesmas Bangsalsari, Kabupaten Jember, dengan nomor persetujuan etik 3689/UN25.8/KEPK/DL/2026. Populasi penelitian terdiri dari 240 pasien TB paru, dengan sampel sebanyak 126 responden yang dipilih menggunakan teknik *simple random sampling*. Kriteria inklusi mencakup pasien TB berusia >15 tahun, sedangkan kriteria eksklusi meliputi pasien dengan komorbiditas HIV dan pasien yang tidak dapat dihubungi (alamat tidak dapat dilacak atau telah meninggal dunia). Variabel yang diteliti meliputi karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan), stigma diri, dan harga diri. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, yaitu *Internalized Stigma of Mental Illness Scale* (ISMI) untuk mengukur stigma diri dan *Rosenberg Self-Esteem Scale* (RSES) untuk mengukur harga diri. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Spearman serta disajikan dalam bentuk tabel yang disertai deskripsi naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia dewasa (19–59 tahun) sebesar 77%, berjenis kelamin perempuan sebesar 56,3%, berpendidikan SMP sebesar 32,5%, dan sebagian besar tidak bekerja sebesar 31%. Identifikasi stigma diri menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih mengalami tingkat stigma diri yang relatif tinggi, khususnya pada domain keterasingan, penerimaan stereotip, pengalaman diskriminasi, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Sementara itu, sebagian besar responden memiliki harga diri yang relatif baik, yang ditunjukkan oleh adanya perasaan berharga, penerimaan diri, dan keyakinan terhadap kemampuan diri. Analisis hubungan antara karakteristik dan harga diri menunjukkan bahwa usia (nilai p = 0,023; rho = -0,203) dan tingkat pendidikan (nilai p = 0,006; rho = 0,243) berhubungan secara signifikan dengan harga diri pada pasien TB, sedangkan jenis kelamin (nilai p = 0,527; rho = -0,057) dan pekerjaan (nilai p = 0,723; rho = -0,032) tidak berhubungan secara signifikan. Uji Spearman juga menunjukkan nilai p < 0,001 dengan koefisien korelasi (rho) sebesar 0,293, yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara stigma diri dan harga diri pada pasien tuberkulosis. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa usia dan pendidikan berhubungan dengan harga diri, serta stigma diri berhubungan secara signifikan dengan harga diri, sedangkan jenis kelamin dan pekerjaan tidak berhubungan secara signifikan. Pasien TB disarankan untuk meningkatkan pemahaman mengenai penyakitnya dan mendapatkan dukungan sosial yang memadai guna mempertahankan harga diri yang positif. Puskesmas dan Dinas Kesehatan didorong untuk memperkuat program edukasi, konseling, dan promosi kesehatan berbasis masyarakat.

Description

Finalisasi Agustus 2026 Rudi H

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By