Hubungan Perilaku Merokok dengan Neuropati Perifer pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kaliwates Jember

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi beban besar bagi sistem kesehatan global maupun nasional. Pengendalian diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah, tetapi juga harus memperhatikan faktor gaya hidup yang dapat dimodifikasi, khususnya perilaku merokok. Neuropati perifer merupakan komplikasi kronis diabetes yang paling sering terjadi, bersifat progresif, dan dapat berujung pada ulkus diabetik hingga amputasi. Nikotin dan zat toksik dalam rokok menyebabkan vasokonstriksi, disfungsi endotel, stres oksidatif, serta gangguan regenerasi saraf yang bekerja sinergis dengan hiperglikemia kronis sehingga mempercepat kerusakan saraf perifer. Dengan demikian, merokok bukan sekadar kebiasaan buruk umum, melainkan faktor risiko yang sangat relevan terhadap perkembangan komplikasi neuropatik pada pasien diabetes. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional di Puskesmas Kaliwates Kabupaten Jember, menggunakan instrumen GN-SBQ untuk menilai perilaku merokok dan MNSI untuk menilai neuropati perifer. Responden didominasi laki-laki berusia 56–65 tahun dengan median lama menderita diabetes selama 6 tahun, mencerminkan kondisi yang secara fisiologis sudah meningkatkan risiko komplikasi kronis. Seluruh responden (100%) memiliki perilaku merokok, dengan distribusi terbesar pada kategori merokok sedang dan berat. Sebanyak 80,4% responden menderita neuropati perifer, memperlihatkan bahwa komplikasi saraf pada pasien DM Tipe 2 di layanan primer merupakan masalah nyata yang tidak bisa dipandang ringan. Ketika paparan diabetes jangka panjang disertai kebiasaan merokok yang mengakar, potensi kerusakan saraf perifer menjadi semakin besar dan kompleks. Gejala neuropati yang ditemukan meliputi mati rasa, penurunan sensitivitas kaki, rasa terbakar, nyeri seperti tertusuk, serta nyeri yang memburuk pada malam hari, disertai penurunan persepsi getaran, refleks ankle, dan keluhan otonom seperti kulit kaki kering dan riwayat luka terbuka. Temuan ini menunjukkan bahwa neuropati perifer tampak nyata pada dimensi klinis sensorik, otonom, dan motorik yang berimplikasi langsung terhadap kualitas hidup dan risiko luka kaki diabetik. Hubungan antara merokok dan neuropati perifer tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan faktor usia lanjut, lama menderita diabetes, dan kerentanan vaskular akibat proses degeneratif. Meski demikian, merokok tetap menjadi faktor risiko paling strategis karena merupakan satu-satunya variabel yang dapat dimodifikasi melalui intervensi kesehatan. Penelitian ini pun mengisi kesenjangan lokal mengenai hubungan langsung perilaku merokok dengan neuropati perifer di tingkat pelayanan primer, sebagai kontribusi penting bagi pengembangan evidencebased practice.

Description

Finalisasi oleh agus/Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By