Hubungan Stres Akademik dengan Ide Bunuh Diri Berdasarkan Kepribadian Big Five pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Pendahuluan: Mahasiswa keperawatan sering kali menghadapi beban kerja teoritis yang tinggi serta tantangan klinis yang dapat memicu stres akademik signifikan. Adaptasi yang kurang memadai terhadap sumber stres (stresor) dapat memicu ideasi bunuh diri. Variasi respons mahasiswa terhadap tekanan ini sangat dipengaruhi oleh sifat kepribadian masing-masing individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stres akademik dan ideasi bunuh diri, serta peran moderasi sifat kepribadian Big Five, pada mahasiswa program sarjana keperawatan di Universitas Jember.Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 233 mahasiswa sarjana keperawatan dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Perceived Sources of Academic Stress (PASS), Suicidal Ideation Scale (SIS), dan 10-item Big Five Inventory (BFI-10). Analisis data menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau-c. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41,2% responden mengalami stres akademik tingkat sedang, sementara 54,5% responden tidak menunjukkan ideasi bunuh diri. Openness to Experience menjadi sifat kepribadian yang paling dominan (31,8%). Analisis korelasi menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik dengan nilai p value < 0,001. Koefisien korelasi (r) sebesar 0,285 menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan, namun berada pada tingkat kekuatan yang lemah.Kesimpulan: Stres akademik yang tinggi secara signifikan dapat memicu ideasi bunuh diri pada mahasiswa keperawatan, meskipun dengan tingkat kekuatan korelasi yang rendah. Proses adaptasi ini sangat dimoderasi oleh kerentanan internal dan faktor berbasis kepribadian. Neuroticism bertindak sebagai penguat (amplifier), sedangkan Extraversion dan Conscientiousness berfungsi sebagai pelindung (buffer) yang efektif. Selanjutnya, Openness to Experience berfungsi sebagai penguat situasional (situational amplifier), sementara peran Agreeableness masih belum dapat disimpulkan secara pasti karena keterbatasan data.
Description
Finalisasi Maya_09 Agustus 2026
