Perilaku Pencegahan Tuberkulosis pada Warga Binaan Pemasyarakatan di Lapas Kelas IIA Jember
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan angka kejadian yang relatif tinggi setiap tahunnya. Penularan TB dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, khususnya kepadatan hunian tinggi, ventilasi yang buruk, dan interaksi intens dalam ruang terbatas. Lembaga pemasyarakatan (lapas) merupakan salah satu lokasi dengan risiko penularan TB sembilan kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Lapas Kelas IIA Jember mengalami kondisi overkapasitas yang berpotensi meningkatkan transmisi TB antara warga binaan pemasyarakatan (WBP). Pada tahun 2025, tercatat 24 WBP terkonfirmasi positif TB selama menjalani masa pidana. Meskipun upaya pencegahan dan pengendalian telah dilakukan, kejadian TB masih ditemukan. Hal ini mengindikasikan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan institusional, tetapi juga pada perilaku WBP dalam menerapkan praktik pencegahan. Perilaku pencegahan dipengaruhi oleh faktor psikososial, meliputi sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku yang membentuk niat untuk bertindak. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan theory of planned behavior untuk memahami determinan perilaku pencegahan TB di lingkungan tertutup seperti lapas. Desain penelitian yang digunakan yaitu studi observasional analitik dengan pendekatan comparative cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian sebesar 96 WBP yang terdiri dari 24 WBP positif TB dan 72 WBP negatif TB. Teknik pengambilan sampel pada WBP positif TB menggunakan total sampling, dan pada WBP negatif TB dengan perbandingan 1:3. Variabel dependen pada penelitian ini adalah perilaku pencegahan TB, sedangkan variabel independennya adalah sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan niat. Data primer diperoleh melalui wawancara tertutup kepada seluruh responden menggunakan lembar kuesioner. Hasil penelitian pada 96 WBP di Lapas Kelas IIA Jember yang terdiri dari 24 WBP positif TB dan 72 WBP negatif TB menunjukkan bahwa rerata usia WBP berada pada usia produktif 34 – 41 tahun dengan tingkat pendidikan SMA/sederajat dan lama masa pidana 17 – 24 bulan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skor yang signifikan secara statistik terhadap seluruh komponen TPB pada kedua kelompok (p > 0,05). Hal tersebut dapat terjadi karena lapas termasuk lingkungan yang homogen, sehingga antara WBP positif dan negatif TB berada dalam sistem, regulasi, dan paparan lingkungan yang sama sehingga perilaku kesehatan relatif sama. Berdasarkan temuan di lapangan, sikap dan norma subjektif keduanya menunjukkan hasil skor yang sama (sikap= 10 – 44; norma subjektif= 48 - 84), diikuti persepsi kontrol perilaku menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada WBP positif TB dibandingkan WBP negatif TB (positif= 23 – 50; negatif= 11-50), pada niat dan perilaku juga menunjukkan bahwa hasil skor lebih tinggi pada WBP positif TB dibandingkan WBP negatif TB. Kondisi tersebut dapat terjadi karena WBP positif TB memiliki pengalaman terhadap infeksi TB sehingga cenderung memiliki kepatuhan dalam perilaku kesehatan untuk mencegah terjadinya kekambuhan, sedangkan WBP negatif TB melakukan perilaku kesehatan karena terikat pada aturan institusional dibandingkan motivasi internal. Warga binaan diharapkan dapat mempertahankan perilaku pencegahan TB dengan konsisten menggunakan masker saat batuk, menerapkan etika batuk dan bersin, dan menjaga kebersihan diri untuk memutus rantai penularan TB selama berada di lapas. Selain itu, sesama WBP perlu saling memberikan dukungan sosial untuk saling memotivasi dalam melakukan praktik pencegahan TB di lapas.
Description
Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli
