Viabilitas Bakteri Selulolitik dan Amilolitik Asal Feses Luwak Menggunakan Media Karbon Kulit Tanduk Kopi Arabika
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Kopi luwak merupakan salah satu produk specialty coffee yang memiliki
nilai ekonomi tinggi secara global karena cita rasa serta aroma yang khas. Keunikan
kopi luwak dihasilkan melalui proses fermentasi alami di dalam saluran pencernaan
luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang mengalami perubahan biokimia akibat
aktivitas enzim dan mikroorganisme pencernaan. Penelitian menunjukkan bahwa
saluran pencernaan luwak mengandung komunitas mikroorganisme yang beragam,
meliputi bakteri asam laktat/non, khamir, dan mikroorganisme penghasil enzim
hidrolitik. Mikroorganisme inilah yang berkontribusi dalam proses hidrolisis
lapisan buah kopi menjadi gula sederhana yang dapat digunakan selama
fermentasi. Proses hidrolisis tersebut tidak hanya menyediakan nutrien bagi
mikroorganisme, tetapi juga menghasilkan berbagai prekursor aroma dan senyawa
volatil yang berkontribusi terhadap pembentukan karakteristik khas kopi luwak.
Penelitian sebelumnya berhasil mengisolasi sepuluh jenis bakteri asal feses
luwak, yang hidup endosimbion pada sistem pencernaan luwak. Pada penelitian ini,
isolat tersebut diuji viabilitasnya menggunakan metode solid state fermentation
(SSF) selama jangka waktu 8 minggu. Setelah itu, ditumbuhkan kembali pada
media Nutrient Broth (NB) untuk mengetahui pertumbuhannya berdasarkan
kekeruhan. Hasil ditemukan bahwa semua isolat IFL mampu tumbuh hingga
minggu ke-8. Namun IFL 10 dan 14 viabilitasnya menurun pada minggu ke-6,
sehingga hanya dapat tumbuh hingga minggu ke -4.
Informasi mengenai keberadaan aktivitas enzim selulase dan amilase pasca
fermentasi juga dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif aktivitas
enzim selulase menggunakan media CMC 1% diperoleh IFL 6, IFL 10 dan IFL 4
dengan indeks tertinggi. Selanjutnya diuji kembali dengan media ekstrak kulit
tanduk 1% diperoleh ketiganya dapat membentuk zona bening, tetapi zona yang dibentuk IFL 6 dan 10 tidak selebar IFL 14. Uji kuantitatif dengan metode somogyi
nelson menunjukkan bahwa ketiganya memang memiliki aktivitas dalam
memproduksi enzim selulase dengan hasil IFL 6 sebesar 47,7 U/mL dan IFL 14
sebesar 46,8 U/mL (substrat CMC). Sedangkan pada media ekstrak kulit tanduk 1%
diperoleh aktivitas tertinggi IFL 14 sebesar 36,2 U/mL dengan gula reduksi yang
dihasilkan sebanyak 9,76 mg/mL.
Uji aktivitas amilase dilakukan sebagai pertimbangan bahwa bakteri ini
memiliki kemampuan menghidrolisis amilum yang terkandung dalam lapisan
sebelum kulit tanduk. Analisis kualitatif diperoleh isolat IFL 6, 8 dan 13 dengan
indeks tertinggi. Berdasarkan pengujian kuantitatif menggunakan metode blue
value, diperoleh aktivitas IFL 6 sebesar 0.0097 U/mL, IFL 8 0.0044 U/mL dan IFL
13 sebesar 0,22 U/mL. Disamping itu, analisis genetik dilakukan untuk mengetahui
kelompok jenis daripada bakteri tersebut, karena sangat penting sebagai informasi
keberlanjutan dari mikroorganisme pencernaan luwak untuk fermentasi.
Berdasarkan analisis similaritas dan pohon filogenetik, IFL 6 dan 13 berasal dari
kelompok Escherichia, IFL 8 dari kelompok Serratia, IFL 10 dari kelompok
Shigella, dan IFL 14 dari kelompok Klebsiella.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 05 Agustus 2026_Kholif Basri
