Hubungan antara Pola Konsumsi Protein dan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan (Studi di Kelurahan Tegal Besar, Kabupaten Jember)

Abstract

Kondisi stunting ditandai dengan tinggi badan balita menurut umur yang berada di bawah -2 standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan WHO. Dampak stunting balita berupa terhambatnya pertumbuhan, perkembangan kognitif, produktivitas, dan morbiditas. Hasil SSGI 2024 menunjukkan angka stunting nasional sebesar 19,8% dan belum mencapai target 14%. Kelurahan Tegal Besar berada di urutan pertama kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates sebesar 39,4%. Pola konsumsi protein dengan frekuensi jarang dan tidak beragam serta ketahanan pangan keluarga merupakan faktor penyebab kejadian stunting. Tujuan: Menganalisis hubungan antara pola konsumsi protein dan ketahanan pangan keluarga dengan kejadian stunting. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional cross sectional. Pelaksanaan penelitian pada Maret-Mei 2026 di Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Populasi sebanyak 1.568 balita dan didapatkan sampel sebanyak 87 balita secara acak. Formulir FFQ untuk mengindentifikasi pola konsumsi protein, kuesioner HFIAS menilai ketahanan pangan keluarga, stadiometer untuk mengukur tinggi badan balita. Uji Chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel. Hasil: Terdapat hubungan antara pola jenis konsumsi protein (p=0,000), frekuensi konsumsi tempe (p=0,000), kacang hijau (p=0,024), daging ayam (p=0,000), keju (p=0,030), yoghurt (p=0,034), susu tinggi protein (p=0,000), dan ketahanan pangan keluarga (p=0,000) dengan kejadian stunting. Simpulan: Meningkatkan variasi konsumsi protein dengan memanfaatkan pangan lokal yang mudah diperoleh, seperti edamame dan beberapa jenis ikan.

Description

Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By