Re-Desain Interior Kapal Ambulans Terhadap Jalur Akses Pasien Berdasarkan Ergonomi dan Perhitungan Teknis
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Transportasi medis melalui jalur laut merupakan salah satu komponen penting dalam pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan dan pesisir. Keberadaan kapal ambulans memungkinkan proses evakuasi pasien menuju fasilitas kesehatan dilakukan secara lebih cepat dibandingkan menunggu transportasi darat yang sering kali tidak tersedia. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi, kapal ambulans juga menjadi ruang pelayanan medis sementara selama proses pelayaran. Oleh karena itu, rancangan interior kapal harus mampu memberikan ruang gerak yang aman, nyaman, dan efisien bagi pasien maupun tenaga medis. Kapal ambulans produksi PT BBS telah dilengkapi berbagai fasilitas medis yang mendukung pelayanan kesehatan di atas kapal. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa jalur akses menuju ruang perawatan masih memiliki beberapa keterbatasan. Posisi pintu masuk yang berada di bagian buritan, lebar bukaan partisi yang relatif sempit, serta konfigurasi ruang di sekitar area kemudi menyebabkan proses pemindahan pasien menggunakan stretcher tidak dapat dilakukan secara langsung. Kondisi tersebut mengharuskan tenaga medis melakukan berbagai manuver ketika membawa pasien, sehingga berpotensi mengurangi kecepatan penanganan pada kondisi darurat. Permasalahan tersebut menjadi dasar dilakukannya evaluasi terhadap tata letak interior kapal dengan tetap mempertahankan dimensi utama lambung yang telah dimiliki kapal eksisting. Pengembangan rancangan dilakukan menggunakan pendekatan parent design, sehingga perubahan hanya difokuskan pada penataan ruang, jalur sirkulasi, dan fasilitas interior. Seluruh kebutuhan dimensi ruang disusun berdasarkan prinsip ergonomi dengan mengacu pada data antropometri masyarakat Indonesia serta disesuaikan dengan Pedoman Teknis Ambulans Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tahapan perancangan meliputi pemodelan lambung menggunakan software Maxsurf student version, penyusunan tata letak dua dimensi, pengembangan model tiga dimensi, hingga evaluasi karakteristik teknis kapal setelah dilakukan perubahan desain. Hasil perancangan menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada sistem akses menuju ruang medis. Jalur evakuasi pasien dirancang lebih lurus melalui pemindahan pintu utama ke bagian haluan sehingga proses pemindahan stretcher dapat dilakukan tanpa hambatan. Lebar pintu masuk dan bukaan partisi diperbesar untuk memenuhi kebutuhan ruang gerak stretcher beserta tenaga medis yang mendampinginya. Area ruang kemudi juga mengalami penyesuaian melalui perubahan konfigurasi tempat duduk sehingga koridor utama menjadi lebih luas. Selain itu, penempatan berbagai fasilitas medis, seperti sistem oksigen sentral, lemari peralatan, dan perlengkapan pendukung lainnya, diatur kembali agar lebih mudah dijangkau tanpa mengganggu aktivitas evakuasi pasien. Perubahan tata letak interior tersebut selanjutnya dianalisis dari sisi teknis untuk memastikan bahwa modifikasi yang dilakukan tidak memengaruhi keselamatan kapal. Hasil perhitungan menunjukkan nilai Lightweight Tonnage (LWT) sebesar 3,969 ton dan Deadweight Tonnage (DWT) sebesar 2,534 ton. Distribusi berat kapal setelah re-desain tetap berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak menyebabkan perubahan yang merugikan terhadap posisi titik berat kapal. Evaluasi stabilitas dilakukan pada empat kondisi operasional yang mewakili kondisi pelayaran kapal. Seluruh hasil simulasi memperlihatkan bahwa karakteristik stabilitas kapal masih memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh IMO A.749(18) dan HSC Code 2000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan tata letak interior berhasil meningkatkan kualitas jalur evakuasi pasien tanpa mengurangi aspek keselamatan pelayaran.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 04 Agustus 2026_Kholif Basri
