Makna Kehidupan dalam Novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar Karya Tere Liye: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena polarisasi makna kehidupan yang dialami tokoh-tokoh dalam novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar karya Tere Liye, ketika perjuangan moral kolektif aktivis lingkungan berhadapan dengan orientasi kekuasaan individual yang direpresentasikan oleh tokoh antagonis. Novel tersebut merepresentasikan realitas sosial-politik Indonesia melalui konflik pertambangan ilegal, manipulasi hukum, dan praktik represi kekuasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna kehidupan tokoh melalui perspektif psikologi humanistik Maslow. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan objektif. Novel ditempatkan sebagai objek material, sedangkan dinamika kebutuhan psikologis tokoh menjadi objek formal kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan akan penghargaan pada tokoh aktivis lingkungan menjadi aspek yang paling dominan dan mengalami hambatan akibat legitimasi hukum yang manipulatif. Tokoh antagonis seperti Hotma Cornelius dan Menteri Bacok merepresentasikan pencapaian aktualisasi diri melalui dominasi kekuasaan. Makna kehidupan tokoh Aktivis Lingkungan berorientasi pada nilai etis-komunal yang menekankan tanggung jawab moral, solidaritas, dan keadilan ekologis, sedangkan makna kehidupan tokoh antagonis berorientasi pada pencapaian kekuasaan, superioritas, serta stabilitas struktural. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar tidak hanya menyuarakan kritik ekologis, tetapi juga membongkar cara dinamika kebutuhan manusia terus beroperasi dalam masyarakat pascareformasi melalui strategi psikologis yang bersifat represif.
Description
Finalisasi Agustus 2026 Rudi H
