Analisis Kesesuaian Jangkauan Puskesmas Terhadap Prediksi Perkembangan Permukiman Menggunakan Pemodelan Landuse/Landcover (LULC) Dan Network Analysis Di Kabupaten Blitar
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS TEKNIK
Abstract
Kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia yang harus dijamin
ketersediaannya secara merata, termasuk melalui akses masyarakat terhadap
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas). Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-1733-2004 menetapkan
jangkauan ideal pelayanan Puskesmas berada pada radius 3 km dari lokasi fasilitas.
Namun, pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan
permukiman yang terus terjadi di Kabupaten Blitar berpotensi menciptakan wilayah
permukiman baru yang berada di luar jangkauan pelayanan Puskesmas eksisting.
Kondisi ini diperparah oleh tren peningkatan kasus penyakit tidak menular dan
gangguan jiwa di wilayah tersebut, sementara distribusi fasilitas kesehatan primer
belum sepenuhnya merata, terutama di kawasan peri-urban yang mengalami
pertumbuhan permukiman paling pesat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
keterjangkauan Puskesmas terhadap perkembangan permukiman eksisting,
memprediksi arah perkembangan permukiman di masa mendatang, serta menilai
kesesuaian jangkauan pelayanan Puskesmas terhadap prediksi tersebut di
Kabupaten Blitar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis penginderaan
jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan mengintegrasikan dua metode
utama, yaitu pemodelan Land Use/Land Cover (LULC) dan Network Analysis.
Klasifikasi tutupan lahan dilakukan terhadap citra satelit Landsat 8 tahun 2015,
2020, dan 2025 menggunakan metode Maximum Likelihood Classifier (MLC),
sedangkan prediksi perkembangan permukiman hingga tahun 2055 dilakukan
melalui pendekatan Cellular Automata–Artificial Neural Network (CA-ANN)
menggunakan plugin MOLUSCE pada perangkat lunak QGIS. Sementara itu,
penilaian keterjangkauan Puskesmas dilakukan melalui Network Analysis berbasis
Service Area dengan mempertimbangkan jaringan jalan dan mengacu pada standar
radius pelayanan 3 km sesuai SNI 03-1733-2004.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterjangkauan Puskesmas terhadap
permukiman eksisting di Kabupaten Blitar masih belum optimal. Dari total luas
permukiman eksisting sebesar 131.769,73 ha, hanya 19,17% (25.262,84 ha) yang
berada pada zona ideal (<3 km), sedangkan 26,48% (34.887,84 ha) berada pada
zona transisi (3–5 km) dan sisanya sebesar 54,35% (71.619,05 ha) masih berada
pada zona belum terjangkau (>5 km). Hasil pemodelan LULC menunjukkan bahwa
kawasan permukiman diproyeksikan tumbuh sebesar 0,52%, dari 26.686,71 ha pada
tahun 2025 menjadi 26.825,4 ha pada tahun 2055, dengan pola pertumbuhan yang
cenderung mengikuti koridor jaringan jalan utama dan terkonsentrasi di kawasan
peri-urban seperti Kecamatan Kanigoro, Sanankulon, Nglegok, Ponggok, dan
Srengat. Validasi model menghasilkan nilai Kappa sebesar 0,95 yang menunjukkan
tingkat akurasi sangat tinggi.
Analisis kesesuaian jangkauan Puskesmas terhadap prediksi permukiman
tahun 2055 menunjukkan bahwa dari total 23.153,70 ha permukiman hasil prediksi,
sebesar 33,28% (7.706,04 ha) berada pada Zona Ideal, 31,85% (7.373,45 ha) pada
Zona Transisi, dan 34,87% (8.074,21 ha) pada Zona Jauh (>5 km). Kecamatan
Kademangan, Panggungrejo, dan Binangun teridentifikasi sebagai wilayah dengan
kesenjangan pelayanan terbesar. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini
merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Blitar memprioritaskan
pembangunan Puskesmas atau Puskesmas Pembantu baru di wilayah dengan
proporsi Zona Jauh terbesar, menjadikan hasil prediksi perkembangan permukiman
sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),
meningkatkan konektivitas jaringan jalan menuju permukiman terisolir, serta
mengoptimalkan program pelayanan kesehatan bergerak (mobile health service) di
kawasan yang secara geografis sulit dijangkau. Dengan demikian, hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan strategis bagi pemerintah daerah
dalam merumuskan kebijakan pemerataan fasilitas kesehatan yang lebih antisipatif
dan berbasis data spasial.
Description
Finalisasi Hasyim/Agustus 2026
